Senin, 03 November 2014

KALIMAT EFEKTIF

NAMA           :  NOVA KARLASEMI
KELAS          : 3KA01
NPM               : 15112379

Manusia dalam berkomunikasi dengan manusia yang lainnya yaitu dengan menggunakan bahasa. Manusia menggunakan bahasa sebagai aplikasi untuk menyampaikan suatu keinginan, pikiran, perasaan, pendapat dan lain sebagainya. Bahasa yang digunakan itu hendaklah dapat mendukung maksud secara jelas agar apa yang dipikirkan, diinginkan, atau dirasakan itu dapat diterima oleh pendengar atau pembaca. Tentunya kita dalam berbahasa pun haruslah benar sesuai dengan keberadaan kita dan etika yang ada agar apa yang kita ingin sampaikan kepada lawan bicara kita itu dapat tersampaikan secara jelas dan tepat sasaran. Kalimat yang dapat mencapai sasarannya secara baik disebut dengan kalimat efektif.

PENGERTIAN KALIMAT EFEKTIF
Pengertian kalimat efektif menurut para ahli, antara lain sebagai berikut :
1.      Kalimat efektif adalah kalimat yang bukan hanya memenuhi syarat-syarat komunikatif, gramatikal, dan sintaksis saja, tetapi juga harus hidup, segar, mudah dipahami, serta sanggup menimbulkan daya khayal pada diri pembaca. (Rahayu: 2007)
2.      Kalimat efektif adalah kalimat yang benar dan jelas sehingga dengan
mudah dipahami orang lain secara tepat. (Akhadiah, Arsjad, dan Ridwan:2001)
3.      Kalimat efektif adalah kalimat yang memenuhi kriteria jelas, sesuai dengan kaidah, ringkas, dan enak dibaca. (Arifin: 1989)
4.      Menurut Widjono Hs, kalimat efektif adalah kalimat yang singkat, padat, jelas, lengkap, dan dapat menyampaikan informasi secara tepat. Kalimat dikatakan singkat karena hanya menggunakan usur yang diperlukan saja. Setiap unsur kalimat benar-benar berfungsi. Sedangkan sifat padat mengandung makna sarat dengan informasi yang terkandung di dalamnya. Dengan sifat ini tidak terjadi pengulangan-pengulangan pengungkapan. Sifat jelas ditandai dengan kejelasan struktur kalimat dan makna yang terkandung di dalamnya. Sifat lengkap mengandung makna kelengkapan struktur kalimat secara gramatikal, dan kelengkapan konsep atau gagasan yang terkandung di dalam kalimat tersebut.
Dari beberapa pengertian mengenai kalimat efektif di atas , maka dapat saya simpulkan bahwa kalimat efektif itu merupakan kalimat yang benar dan jelas yang memenuhi syarat-syarat komunikatif, gramatikal, dan sintaksis yang digunakan untuk menyampaikan suatu informasi agar si penerima informasi mudah untuk mencernanya dan memahami maksud dari apa yang di sampaikan. Kalimat efektif adalah kalimat yang dapat mewakili gagasan pembicara atau penulis serta dapat diterima maksudnya/arti serta tujuannya seperti yang di maksud penulis /pembicara.
SYARAT-SYARAT KALIMAT EFEKTIF
Adapun syarat-syarat kalimat efektif antara lain sebagai berikut :
1.      Kalimat efektif harus  dapat mewakili gagasan pembicara atau penulis serta dapat diterima maksudnya/arti serta tujuannya seperti yang di maksud penulis /pembicara.
2.      Kalimat efektif mampu menyampaikan gagasan atau perasaan yang ingin di sampaikan
3.      Kalimat efektif haruslah mudah untuk di pahami oleh pembaca atau pendengar yang sama tepatnya dengan yang di pikirkan oleh penulisnya.
Kalimat efektif memenuhi ciri sebagai berikut :
a.      Keutuhan
Kesatuan kalimat ditandai oleh adanya kesepadanan struktur dan makna kalimat. Kalimat secara gramatikal mungkin benar, tetapi maknanya salah. Misalnya: Saya saling memaafkan. Kalimat tersebut salah karena tidak adanya kesepadanan struktur dan makna. Kalimat tersebut seharusnya: Kami saling memaafkan.
b.      Kesejajaran
Kesejajaran adalah kesamaan bentuk kata yang digunakan secara konsisten. Misalnya: kesatuan, kemakmuran, kedamaian, kesejahteraan. Berikut ini contoh kesejajaran dalam kalimat yang kurang tepat penggunaannya:
Polisi segera menangkap pencuri itu karena sudah diketahui sebelumnya
Kalimat tersebut seharusnya seperti berikut
Polisi segera menangkap pencuri itu karena sudah mengetahui sebelumnya
c.       Kefokusan
Kalimat efektif harus memfokuskan pesan terpenting agar mudah dipahami maksudnya. Jika tidak, makna kalimat akan sulit ditangkap dan menghambat komunikasi.
Contohnya:
Sulit ditingkatkan kualitas dan kuantitas produk holtikultura ini (tidak efektif)
Produk holtikutura ini sulit ditingkatkan kualitas dan kuantitasnya (efektif)
d.      Kehematan
untuk menjamin kalimat, setiap unsur kalimat harus berfungsi dengan baik, unsur yang tidak mendukung kalimat harus dihindarkan. Untuk itu hindarilah hal-hal berikut:
1.      Subjek ganda, misalnya: Buku itu saya sudah baca. Seharusnya, Saya sudah membaca buku itu
2.      Penajaman kata yang sudah berbentuk jamak, misalnya: data (jamak) dengan data-data (jamak yang tidak efektif).
3.      Menggunakan Bentuk Singkat

Kalimat singkat bukan berarti harus pendek-pendek. Akan tetapi, kalimat harus menggunakan unsur kalimat yang benar-benar berfungsi dan menghilangkan kata atau ungkapan yang tidak mendukung makna.
Contoh:
Pimpinan memberikan peringatan kepada karyawan agar rajin bekerja (benar namun tidak singkat)
Pimpinan memperingatkan karyawan agar rajin bekerja (benar dan singkat)
Meskipun benar, kalimat ini dapat dibuat lebih singkat dengan mengubah memberikan peringatan menjadi memperingatkan. Perhatikan kata-kata berikut ini:
a.       Memberikan teguran – menegur
b.      Mengambil tindakan – menindak
c.       Memberikan peringatan – memperingatkan

4.      Menggunakan bentuk kata aktif dan bertenaga:
Ia berdiri lalu pergi (aktif tetapi kurang bertenaga)
Ia bangkit lalu pergi (aktif dan bertenaga)
Mereka memperhatikan penjahat itu (aktif tetapi kurang bertenaga)
Mereka mengamati penjahat itu (aktif dan bertenaga
e.       Kecermatan dan Kesantunan
Kecermatan dan kesantunan terkait dengan ketepatan memilih kata sehingga menghasilkan komunikasi baik, tepat, tanpa gangguan emosional pembaca atau pendengar. Kalimat dikatakan baik jika pesan yang disampaikan dapat diterika oleh orang lain. Sedangkan santun mengandung makna halus dan baik dan sopan

1.      Kecermatan
Kecermatan kata dalam kalimat ditentukan ketepatan pilihan kata. Pilihan bukan karena enak didengar atau merdu ketika diucapkan melainkan daya ekspresinya yang eksak (pasti). Banyak  kata dalam bahasa kita yang hampir sama maknanya. Bahkan, seringkali dianggap sebagai kata yang bersinonim. Akan tetapi, hanya satu yang paling tepat mengungkapkan maksud secara cermat.
Contoh:
Manusia ialah makhluk yang berakal budi (salah dan tidak cermat)
Kata ialah harus diikuti sinonim, bukan definisi formal. Jika menggunakan ialahkalimat itu kata manusia disertai sinonim.
Contoh:
Manuasia adalah makhluk yang berakal budi (benar dan cermat)
Manusia ialah orang (benar dan cermat)
Selain itu, kecermatan kalimat menyangkut ketepatan bentuk kata, pemakaian kata berimbuhan, dan tanda baca.
Contoh:
Karena sudah diketahui sebelumnya, mahasiswa itu dapat menjawab tes dengan mudah (salah)
Karena sudah mengetahui sebelumnya, mahasiswa itu dapat menjawab tes dengan mudah (benar)
2.      Kesantunan
Kesantunan kalimat mengandung makna bahwa gagasan yang diekspresikan dapat mengembangkan suasana yang baik, hubungan yang harmonis, dan keakraban. Kalimat yang baik dan santun ditandai sifat-sifat: singkat, jelas, lugas, dan tidak berbelit-belit. Perhatikan contoh berikut:
Sebagaimana telah ditetapkan, pekerjaan itu biasanya dikerjakan dua kali seminggu (salah)
Telah ditetapkan bahwa pekerjaan itu dua kali seminggu (benar)
f.       Kevariasian
Kevariasian kalimat dapat dilakukan dengan variasi struktur, diksi, dan gaya asalkan variasi tersebut tidak menimbulkan perubahan makna kalimat yang dapat menimbulkan salah pemahaman atau salah komunikasi.
1.      Kalimat Berimbang (dalam kalimat majemuk setara)
Contoh:
Kedua orang tuanya bekerja di perusahaan, dan ketiga anak mereka belajar di sekolah
2.      Kalimat Melepas yaitu melepas (mengubah) fungsi klausa kedua dari klausa koordinatif dengan klausa utama (pertama) menjadi klausa sematan, dalam kalimat berikut ini menjadi anak kalimat keterangan waktu.
Contoh :
Kedua orang tuanya bekerja di perusahaan ketika ketiga anak mereka belajar di sekolah
3.      Kali mat Berklimaks yaitu menempatkan klausa sematan (anak kalimat) pada posisi awal dan klausa utama di bagian akhir.
Contoh :
Ketika ketiga anak itu belajar di sekolah, kedua orang tua mereka bekerja di perusahaan.
g.      Ketepatan Diksi
Kecermatan diksi mempermasalahkan penempatan kata. Setiap kata harus mengungkapkan pikiran secara tepat. Untuk iu, penulis harus membedakan kata yang hampir bersinonim, struktur idiomatik, kata yang berlawanan makna, ketepatan dan kesesuaian, dan sebagainya.
h.      Ketepatan Ejaan
Kecermatan menggunakan ejaan dan tanda baca dapat menentukan kualitas penyajian data. Sebaliknya, kesalahan ejaan dapat menimbulkan kesalahan komunikasi yang fatal, misalnya: Ia membayar dua puluh lima ribuan. (Maksudnya: dua-puluh-lima-ribuan =  25 x Rp1.000,00 atau dua-puluh-lima-ribuan = seratus ribu = 20 x Rp5.000,00).

Penggunaan tanda baca, bandingkan maknanya:

Paman kami belum menikah
Paman, kami belum menikah
Paman kami, belum menikah
Paman, kami, belum menikah

i.        Kelogisan
Kelogisan ialah bahwa ide kalimat itu dapat diterima oleh akal dan penulisannya sesuai dengan ejaan yang berlaku. Perhatikan kalimat-kalimat berikut:

Waktu dan tempat kami pesilakan
Untuk mempersingkat waktu, kami teruskan acara ini
Haryanto Arbi meraih juara pertama Jepang Terbuka
Hermawan Susanto menduduki juara pertama Cina Terbuka\
Mayat wanita yang ditemukan itu sebelumnya sering mondar-mandir di daerah tersebut
Kalimat itu tidak logis (tidak masuk akal).
Yang logis adalah sebagai berikut.
Bapak Menteri kami persilakan.
Untuk menghemat waktu, kami teruskan acara ini.
Haryanto Arbi meraih gelar juara pertama Jepang Terbuka.
Hermawan Susanto menjadi juara pertama Cina Terbuka.
Sebelum meninggal, wanita yang mayatnya ditemukan itu sering mondar-mandir di daerah tersebut

KESALAHAN-KESALAHAN DALAM BERBAHASA
Berikut kesalahan-kesalahan yang sering kita lakukan ketika berbahasa Indonesia baik lisan maupun tulisan:
1. Merubah
Seharusnya ditulis dan diucapkan ‘Mengubah’, karena asal katanya ‘Ubah’ bukan ‘Rubah’, ditambah imbuhan Me- dengan variasi bentuk morfem Meng-.
2. Antri/ Atlit/ Apotik
Sering kita mengucapkan dan menulis kata yang salah. Seharusnya ‘Antre’ bukan ‘Antri’ (lihat tulisan di dalam Bus TransJakarta), Atlet bukan Atlit (karena ‘Atletik’ bukan ‘Atlitik’), dan Apotek bukan Apotik (karena Apoteker bukan Apotiker)
3. Pebruari/ Nopember
Dalam surat-menyurat penggunaan kata Pebruari dan Nopember sering ditemukan dalam penlisan tanggal surat. Padahal, sesuai dengan KBBI IV tahun 2008 yang benar ialah Februari dan November.
4. Karir
Karier bukan Karir. Ini kata serapan dari Bahasa Inggris ‘Career’. Nah, kata ‘Karir’ sering digunakan dalam kolom pencarian kerja dan tulisan di media cetak dan elektronik.
5. Pemukiman
Media cetak dan media elektronik sering menggunakan kata Pemukiman untuk suatu rumah/ daerah/ tempat. Padahal ‘Pemukiman’ asal katanya ‘Mukim’ berarti penduduk tetap, tempat tinggal, kawasan (KBBI IV tahun 2008). ‘Pemukiman’ adalah proses, cara, perbuatan memukimkan. Sementara ‘Permukiman’ ialah daerah tempat bermukim, perihal bermukim.
6. Mencontek, Mensukseskan, Mempengaruhi, Mensiasati (Pelesapan)
Padahal yang benar adalah ‘Menyontek’ karena berasal kata ‘sontek’ sehingga -s pada kata itu menjadi meluluh. Seharusnya ‘Menyukseskan’, ‘Memengaruhi’, dan ‘Menyiasati’ karena peluluhan terjadi disebabkan kata kerja tersebut diawali huruf -s, dan -p (lengkapnya: K, T, S, P) seperti dalam kata ‘memaku’ bukan ‘mempaku’, ‘menaruh’ bukan ‘mentaruh’, ‘menyukai’ bukan ‘mensukai’, dan ‘mengoleksi’ bukan ‘mengkoleksi’.
7. Kronologis
Kronologis merupakan kata sifat. Tetapi kalau ingin bercerita sesuatu tentang suatu rangkaian kejadia cukup dengan kata ‘kronologi’. Seperti dalam ‘Biology’ menjadi ‘Biologi’, ‘Strategy’ menjadi ‘Strategi’ dan mengalami perubahan pelafalan juga.
8. Adalah Merupakan/ Agar Supaya (Pleonasme)
Kita tidak jarang menyebutkan suatu kata yang sama diulang-ulang seperti misalnya, adalah merupakan, agar supaya, prioritas utama, alternatif lain, warga masyarakat, bakal calon dsb.
9. Umroh/ Jamaah
Walaupun secara pelafalan benar /umroh/ tapi penulisan yang benar seharusnya ‘Umrah’ bukan Umroh. Begitu juga dengan kata ‘Jamaah’ yang seharusnya ditulis ‘Jemaah’.
10. Isteri
Penulisan yang benar ialah ‘Istri’ bukan ‘Isteri’. Sama halnya dengan kata ‘Asli’ bukan ‘Aseli

Referensi :
Badudu, J.S. 1983. Membina Bahasa Indonesia baku. Bandung: Pustaka Prima.
Finoza, Lamuddin. 2002.. Komposisi Bahasa Indonesia. Jakarta: Insan Mulia.
Razak, Abdul. 1985. Kalimat Efektif. Jakarta: Gramedia.
http:////Pengertian, Ciri, dan Penggunaan Kalimat Efektif.html.
Wahyu, Tri, R.N., 2006. Bahasa Indonesia. Jakarta: Universitas Gunadarma


Senin, 27 Oktober 2014

KALIMAT DASAR

NAMA : NOVA KARLASEMI
KELAS :3KA01
NPM : 15112379

KALIMAT DASAR
Kalimat adalah satuan bahasa terkecil, dalam wujud lisan atau tulisan yang mengungkapkan pikiran yang utuh. Kalimat merupakan gabungan dari dua buah kata atau lebih yang menghasilkan suatu pengertian dan pola intonasi akhir.
Pengertian kalimat dasar
Pengertian kalimat dasar menurut para ahli :
1.      Badudu (1994) mengungkapkan bahwa sebagai sebuah satuan, kalimat memiliki dimensi bentuk dan dimensi isi. Kalimat harus memenuhi kesatuan bentuk sebab kesatuan bentuk itulah yang menjadikan kesatuan arti kalimat. Kalimat yang strukturnya benar tentu memiliki kesatuan bentuk sekaligus kesatuan arti. Wujud struktur kalimat adalah rangkaian kata-kata yang disusun berdasarkan aturan-aturan tata kalimat. Isi suatu kalimat adalah gagasan yang dibangun oleh rangkaian konsep yg terkandung dalam kata-kata. Jadi, kalimat (yang baik) selalu memiliki struktur yang jelas. Setiap unsur yang terdapat di dalamnya harus menempati posisi yang jelas. Setiap unsur yang terdapat di dalamnya harus menempati posisi yang jelas dalam hubungan satu sama lain. Kata-kata itu diurutkan menurut aturan tata kalimat.
2.      Dardjowidojo (1988) menyatakan bahwa kalimat ialah bagian terkecil dari suatu ujaran atau teks (wacana) yang mengungkapkan pikiran yang utuh secara ketatabahasaan.
Slametmuljana (1969) menjelaskan kalimat sebagai keseluruhan pemakaian kata yang berlagu,disusun menurut sistem bahasa yang bersangkutan, mungkin yang dipakai hanya satu kata, mungkin lebih
3.      Kridalaksana (2001) juga mengungkapkan kalimat sebagai satuan bahasa yang secara relatif berdiri sendiri, mempunyai pola intonasi final, dan secara aktual maupun potensial terdiri dari klausa. Klausa bebas yang menjadi bagian kognitif percakapan satuan proposisi yang merupakan gabungan klausa atau merupakan satu klausa yang membentuk satuan bebas, jawaban minimal, seruan, salam, dan sebagainya.
Jadi dapat disimpulkan bahwa Kalimat dasar adalah kalimat yang berisi informasi pokok dalam struktur inti, belum mengalami perubahan unsur seperti panambahan keterangan kalimat ataupun keterangan subjek, predikat, objek, ataupun pelengkap.
Unsur-unsur Kalimat :
1.      Subjek
Subjek atau pokok kalimat merupakan unsur utama kalimat. Subjek menentukan kejelasan makna kalimat. Penempatan subjek yang tidak tepat dapat mengaburkan makna kalimat. Keberadaan subjek dalam kalimat berfungsi:
a.       membentuk kalimat dasar, kalimat luas, kalimat tunggal, kalimat majemuk
b.      memperjelas makna
c.       menjadi pokok pikiran
d.      menegeaskan makna
e.       memperjelas pikiran ungkapan
f.       membentuk kesatuan pikiran.
     Ciri-ciri subjek:
a.       Jawaban apa atau siapa
b.      Didahului kata bahwa
c.       Berupa kata atau frasa benda
d.      Disertai kata ini atau itu
e.       Disertai pengawas yang
f.       Kata sifat didahului kata si atau sang
g.      Tidak didahului preposisi: di, dalam, pada, kepada, untuk, dan lain-lain
h.      Tidak dapat diingkarkan dengan kata tidak, tetapi dapat dengan kata bukan
Contoh subjek dapat berupa kata:
1.      Saya sudah mulai lapar
2.      Matahari menandakan hari sudah pagi

2.      Predikat
Predikat adalah unsur utama dalam suatu kalimat dan merupakan kata atau kelompok kata yang menerangkan subjek. Umumnya predikat berupa kata kerja atau kata sifat. Keberadaan predikat dalam kalimat berfungsi:
a.       membentuk kalimat dasar, kalimat tunggal, kalimat luas, kalimat majemuk
b.      menjadi unsur penjelas, yaitu memperjelas pikiran atau gagasan yang diungkapkan dan menentukan kejelasan makna kalimat
c.       menegaskan makna
d.      membentuk kesatuan pikiran
e.       sebagai sebutan.

Ciri-ciri predikat
1.      Jawaban mengapa, bagaimana
2.      Dapat diingkarkan dengan tidak atau bukan
3.      Dapat didahului keterangan aspek: akan, sudah, sedang, selalu, hampir
4.      Dapat didahului keterangan modalitas: sebaiknya, seharusnya, mesti, selayaknya, dan lain-lain
5.      Tidak didahului kata yang, jika didahului yang predikat berubah fungsi menjadi perluasan subjek
6.      Didahului kata adalah, ialah, yaitu, yakni
7.      Predikat dapat berupa kata benda, kata kerja, kata sifat, bilangan
Contoh penggunaan predikat:
·         Pertandingan antara Persija dengan Persib sudah hampir selesai.
3.      Objek
Objek adalah keterangan predikat. Letak objek umumnya setelah predikat, tetapi dalam kalimat pasif, objek dapat menduduki fungsi subjek. Objek berfungsi:
1.      membentuk kalimat dasar pada kalimat berpredikat transitif
2.      memperjelas makna kalimat
3.      membentuk kesatuan atau kelengkapan pikiran.
Ciri-ciri Objek:
a.       Berupa kata benda
b.      Tidak didahuluii kata depan
c.       Mengikuti secara langsung di belakang predikat transitif
d.      Jawaban apa atau siapa yang terletak di belakang predikat transitif.

Contoh penggunaan objek
·         Orang itu sedang memotong kambing
·         Ayahku membetulkan pintu kamar mandi
4.      Keterangan
Keterangan kalimat berfungsi menjelaskan atau melengkapi informasi pesan-pesan kalimat. Tanpa keterangan, informasi menjadi tidak jelas. Hal ini dapat dirasakan kehadirannya terutama dalam surat undangan, laporan penelitian, dan informasi yang terkait dengan tempat, waktu, sebab, dan lainnya.

Ciri-ciri keterangan:
1.      Bukan unsur utama kalimat, tetapi kalimat tanpa keterangan, pesan menjadi tidak jelas, dan tidak lengkap
2.      Tempat tidak terikat posisi, pada awal, tengah, atau akhir kalimat
3.      Dapat berupa: keterangan waktu, tujuan, tempat, sebab, akibat, syarat, cara.

Contoh penggunaan kalimat :
·         Kemarin ayahku berangkat ke Singapura.
·         Ayahku kemarin berangkat ke Singapura.
5.      Pelengkap
Pelengkap adalah unsur kalimat yang berfungsi melengkapi informasi, mengkhususkan objek, dan melengkapi kalimat.

Ciri-ciri pelengkap:
1.      Bukan unsur utama, tetapi tanpa pelengkap kalimat itu tidak jelas dan tidak lengkap informasinya.
2.      Terletak di belakang predikat yang bukan kata kerja transitif
Pola Kalimat
Kalimat yang jumlah dan ragamnya begitu banyak, pada hakikatnya disusun berdasarkan pola-pola tertentu yang amat sedikit jumlahnya, penguasaan pola kalimat akan memudahkan pemakai bahasa dalam membuat kalimat yang benar secara gramatikal. Selain itu, pola kalimat dapat menyederhanakan kalimat sehingga mudah dipahami oleh orang lain.
Pola kalimat dasar sekurang-kurangnya terdiri atas subjek (S) dan predikat (P).
Ciri-ciri pola kalimat dasar:
1.      Berupa kalimat tunggal (satu S, satu P, satu O, satu Pel, satu K)
2.      Sekurang-kurangnya terdiri dari satu subjek dan satu predikat
3.      Selalu diawali dengan subjek
4.      Berbentuk kalimat aktif
5.      Unsur tersebut ada yang berupa kata dan ada yang berupa frasa dan
6.      Dapat dikembangkan menjadi kalimat luas dengan memperluas subjek, predikat, objek, dan keterangan

a.      Berpola S P
Terdiri dari subjek dan predikat.
Contoh:
Saya sedang makan. Gadis itu sangat cantik.
   S       P (kata kerja)     S               P (kata sifat)
Pekerjaan ayahku pegawai swasta.
                    S         P (kata benda)]
b.      Berpola S P O
Terdiri dari subjek, predikat, dan objek
Contoh :
Aku menyukai sepeda
S           P             O

c.       Berpola S P Pel
Terdiri dari subjek, predikat, dan pelengkap.
Contoh :
Dia memberi semangat.
S P Pel
d.      Berpola S P O Pel
Terdiri dari subjek, predikat, objek, dan pelengkap.
Contoh :
Ibu memberi saya uang.
 S          P         O Pel
e.       Berpola S P K
Terdiri dari subjek, predikat, dan keterangan.
Contoh :
Kakakku lahir di Bekasi.
    S            P        K
f.       Berpola S P O K
Terdiri dari subjek, predikat, objek, dan keterangan.
Contoh :
Saya menabung uang di Bank.
   S          P           O        K
g.      Berpola S P Pel K
Terdiri dari subjek, predikat, pelengkap, dan keterangan.
Contoh :
Ibu membeli sayuran di pasar.
  S       P            Pel         K
h.      Berpola S P O Pel K
Terdiri dari subjek, predikat, objek, pelengkap, dan keterangan.
Contoh :
Pria itu memberi pacarnya bunga di taman.
   S              P            O        Pel         K
Jenis-jenis Kalimat
Berdasarkan jumlah Frasa
Kalimat Tunggal
Kalimat tunggal adalah kalimat yang terdiri dari subjek dan satu predikat. Kalimat tunggal dapat juga disertai objek dan keterangan.
Contoh:
1.      Saya akan datang
2.      Kami membuka lahan
Perluasan kalimat tunggal dapat dilakukan dengan memberikan keterangan alat, tempat, dan waktu. Misalnya, Riani menulis surat dengan komputer.
Kalimat Majemuk
Kalimat majemuk adalah hasil perluasan dari kalimat tunggal yang membentuk satu atau lebih pola kalimat baru selain yang sudah ada. Dapat diartikan juga bahwa kalimat majemuk adalah kalimat yang terdiri dari dua atau lebih kalimat tunggal.
Kalimat majemuk terdiri atas beberapa jenis berikut ini.
a.       Kalimat majemuk setara adalah kalimat majemuk yang unsur atau bagian-bagiannya mempunyai hubungan sederajat.
Contoh:
·         Ayah membantu pekerjaanku dan ibuku senang.
·         Kamu akan tidur atau main saja di kamar?
b.      Kalimat majemuk bertingkat adalah kalimat majemuk yang berhubungan antara unsur-unsurnya tidak sederajat. Salah satu unsurnya berfungsi sebagai induk kalimat, dan unsur yang lain berfungsi sebagai anak kalimat.
Contoh:
·         Alfian terlambat sekolah karena macet
·         Kakakku selalu pulang larut malam, sehingga jatuh sakit
·         Tugasku sudah selesai ketika ayahku pulang dari kantor.
c.       Kalimat majemuk campuran adalah gabungan kalimat majemuk setara dengan kalimat majemuk bertingkat. Umumnya dalam kalimat majemuk campuran, terdapat paling sedikit tiga kalimat tunggal.
Contoh:
Hujan sudah reda ketika saya sudah pulang dan ibuku sudah mencuci.
Induk kalimat: hujan sudah reda.
Anak kalimat: saya sudah pulang, ibuku sudah mencuci.

d.      Kalimat majemuk rapatan adalah gabungan beberapa kalimat tunggal yang karena subjek dan predikatnya sama, maka bagian yang sama hanya disebutkan sekali.
Contoh:
1.      Ibu sedang memasak
2.      Ibu sedang menggoreng ayam
3.      Ibu sedang mendengarkan radio
Jadi, ibu sedang, memasak, menggoreng ayam, dan mendengarkan radio.
Berdasarkan Subjeknya
Kalimat Aktif
Kalimat aktif adalah kalimat yang subjeknya melakukan suatu pekerjaan. Predikat kalimat aktif selalu berbentuk kata kerja, umumnya berawalan ber- dan me-.
Contoh:
1.      Christina bernyanyi dengan syahdu.
2.      Yanuar membuat layang-layang dengan bambu.
Kalimat Pasif
Kalimat pasif adalah kalimat yang subjeknya dikenai pekerjaan. Umumnya berawalan di-.
Contoh:
1.      Dengan syahdu lagu itu dinyanyikan Christina
2.      Layang-layang dibuat Yanuar dengan bambu.
Tidak semua kalimat aktif dapat diubah menjadi kalimat pasif. Kalimat aktif dapat diubah menjadi pasif apabila memiliki objek dan predikatnya berawalan me-.
Berdasarkan Pengucapannya
Kalimat Langsung
Kalimat langsung adalah kalimat yang secara langsung diucapkan orang. Kutipan dalam kalimat langsung berupa kalimat tanya, perintah, atau berita.
Contoh:
•“tolong matikan lampu, Do!”, kata ayah kepada Aldo.
• “kamu harus mengerjakan tugasmu!”, kata ibu.
Kalimat Tidak Langsung
Kalimat tidak langsung adalah kalimat yang menceritakan kembali ucapan orang lain. Kutipan dalam kalimat tak langsung merupakan kalimat berita.
Contoh:
1.      Andi bertanya kepada ayah tentang pekerjaan rumahnya.
2.      Ibu berkata bahwa saya harus rajin belajar.
3.      Kakak meminta tolong kepadaku untuk mencuci mobil.
Berdasarkan Isi atau Fungsinya
Kalimat berita
Kalimat berita adalah kalimat yang memberitahukan sesuatu hal kepada orang lain.
contoh:
1.      Paman akan ke luar negri minggu depan
2.      Gurumu tidak akan memarahimu.
Kalimat Perintah
Kalimat perintah adalah kalimat yang bermaksud memberikan perintah kepada orang lain supaya melakukan sesuatu hal. Umumnya kalimat perintah diakhiri dengan tanda seru tetapi ada juga yang diakhiri dengan tanda titik.
Contoh:
1.      Ambillah sepatu itu supaya tidak mengganggu jalan.
2.      Kerjakan PRmu!
Kalimat Tanya
Kalimat tanya adalah kalimat yang tujuannya menanyakan sesuatu hal atau seseorang dengan harapan memperoleh jawaban.
Contoh:
1.      Kapan kamu berangkat ke sekolah?
2.      Dimana sekolahmu?
Kalimat Seru
Kalimat seru adalah kalimat yang mengungkapkan perasaan kagum dan seruan. kalimat seru dapat dibentuk dari kalimat berita yang predikatnya berupa kata sifat.
Contoh:
1.      Pemandangan di pantai sangat indah.
2.      Alangkah indahnya pemandangan di pantai.
Kata Penghubung pada kalimat majemuk
1.      Pengertian
Kata yang menghubungkan dua kata atau kalimat (klausa)
2.      Jenis-jenis
a.       Kata hubung Koordinatif
menghubungkan 2 unsur atau lebih yang sifat/kedudukannya sama (setara)
menggabungkan : dan, serta, lagi, pula, juga
pertentangan : tetapi, namun, sedangkan
memilih/pilihan : atau
menguatkan : bahkan, malahan
mengurutkan : lalu, kemudian
b.      Kata hubung Subordinatif
menghubungkan 2 unsur atau lebih yang tidak sama kedudukannya
hub. syarat : jika, kalau, bila
hub. waktu : saat, sebelum, selama
hub. tujuan : untuk, demi, bagi, agar
hub. perbandingan : daripada, seperti, umpama
hub. sebab : karena, sebab, oleh sebab
hub. akibat : sehingga, maka
hub. menjelaskan : bahwa, yaitu, ialah
hub. pengandaian : seandainya, sekiranya
hub. pengecualian : kecuali, selain
hub. cara/alat : dengan
hub. kemiripan : seolah-olah

c.       Kata hubung Korelatif (berpasangan)
menghubungkan 2 kata, frase atau klausa yang mengandung kedudukan yang sama dan memiliki 2 bagian yang dipisahkan oleh salah satu kata, frase, atau klausa.
baik……maupun……
sedemikian rupa…….sehingga……..
tidak hanya………, tetapi juga……
apakah……..ataukah……..
bukan hanya…….melainkan juga…….
entah………entah……..
jangankan………pun…….
d.      Kata hubung Intra Kalimat
 kata penghubung yang ada di dalam kalimat
e.       Kata hubung Antar Kalimat
Kata penghubung yang digunakan untuk menggabungkan 2 kalimat (atau lebih)
ex: siapa menyakiti dan menyiksanya akan berdosa besar. Sebaliknya, siapa menolongnya mendapat pahala besar dari Tuhan.
f.       Kata hubung Antar Paragraf
 menghubungkan paragraf sebelumnya dengan paragraf selanjutnya.

Referensi :

ugono. Dr.Dendy. 2009. MAHIR BERBAHASA INDONESIA DENGAN BENAR. Gramedia Pustaka Utama:Jakarta