Sabtu, 28 Juni 2014

Bekerjasama Dalam Team (Kelompok) Atau Team Work

Nama               : Nova Karlasemi
Kelas               : 2KA01
NPM               : 15112379

Bekerjasama Dalam Team (Kelompok) Atau Team Work
Seperti yang telah kita ketahui bersama , bahwa manusia merupakan mahluk sosial. Mahluk sosial disini berarti manusia tidaklah dapat hidup seorang diri di dalam lingkungan kehidupannya. Manusia dalam kehidupannya itu saling bersosialisasi , proses sosialisasi yang terjadi itu terjalin antara manusia yang satu dengan manusia yang lainnya.
Manusia dalam kehidupannya cenderung hidup berkelompok. Kelompoknya pun beragam dan dari masing-masing kelompoknya itu memiliki karakteristik yang berbeda satu dengan yang lainnya. Mulai dari kelompok orang yang mempunyai hobi yang sama, aktivitas yang sama, sampai kelompok orang yang berasal dari suatu daerah yang sama. Dalam proses sosialisasinya juga manusia menjalin suatu kerjasama yang baik antar sesamanya. Suatu kerjasama tercipta dengan tujuan untuk mewujudkan cita-cita bersama. Kerja sama dalam tim kerja menjadi sebuah kebutuhan dalam mewujudkan keberhasilan kinerja dan prestasi kerja. Kerja sama dalam tim kerja akan menjadi suatu daya dorong yang memiliki energi dan sinergisitas bagi individu-individu yang tergabung dalam kerja tim. Komunikasi akan berjalan baik dengan dilandasi kesadaran tanggung jawab tiap anggota.
Team adalah sekelompok orang dengan kemampuan, talenta, pengalaman dan latar belakang yang berbeda, yang berkumpul bersama-sama untuk mencapai satu tujuan. Meskipun adaperbedaan di antara mereka, namun tujuan bersama merupakan penghubungyang menyatukan mereka sebagai team. Dalam sebuah organisasi, kerja team menentukan output kerja yang dihasilkan. Inilah yang dimaksudkan dengan kerja tim, beban dibagi untuk satu tujuan bersama.



PENGERTIAN KELOMPOK MENURUT BEBERAPA AHLI :
1. Menurut Homans (1950) : kelompok adalah sejumlah individu berkomunikasi satu dengan yang lain dalam jangka waktu tertentu yang jumlahnya tidak terlalu banyak, sehingga tiap orang dapat berkomunikasi dengan semua anggota secara langsung.
2. Menurut Merton, kelompok merupakan sekelompok orang yang saling berinteraksi sesuai dengan pola yang telah mapan, sedangkan kolektiva merupakan orang yang mempunyai rasa solidaritas karena berbagai niai bersama dan yang telah memiliki rasa kewajiban moral untuk menjalankan harapan peran.
3. Menurut Achmad S. Ruky, Kelompok adalah sejumlah orang yang berhubungan (berinteraksi) antara satu dan yang lainnya, yang secara psikologis sadar akan kehadiran yang lain dan yang menganggap diri mereka sebagai suatu kelompok.
4. Menurut  Muzafer Sherif, Kelompok  adalah kesatuan  yang terdiri dari dua atau lebih individu yang telah mengadakan interaksi sosial yang cukup intensif dan teratur, sehingga di antara individu itu sudah terdapat pembagian tugas, struktur dan norma-norma tertentu.
5. Menurut De Vito (1997) : kelompok merupakan sekumpulan individu yang cukup kecil bagi semua anggota untuk berkomunikasi secara relatif mudah. Para anggota saling berhubungan satu sama lain dengan beberapa tujuan yang sama dan memiliki semacam organisasi atau struktur diantara mereka. Kelompok mengembangkan norma-norma, atau peraturan yang mengidentifikasi tentang apayang dianggap sebagai perilaku yang diinginkan bagi semua anggotanya.
Jadi dapat disimpulkan bahwa, Kelompok adalah kumpulan dari dua orang atau lebih yang berinteraksi dan mereka saling bergantung (interdependent) dalam rangka memenuhi kebutuhan dan tujuan bersama, meyebabkan satu sama lain saling mempengaruhi (Cartwright&Zander, 1968; Lewin, 1948).



KARAKTERISTIK KELOMPOK
Ada dua karakteristik yang melekat pada suatu kelompok, yaitu norma dan peran. Yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah tentang norma. Norma adalah persetujuan atau perjanjian tentang bagaimana orang-orang dalam suatu kelompok berperilaku satu dengan lainnya. Ada tiga kategori norma kelompok, yaitu norma sosial, prosedural dan tugas. Norma sosial mengatur hubungan di antara para nggota kelompok. Sedangkan norma prosedural menguraikan dengan lebih rinci bagaimana kelompok harus beroperasi, seperti bagaimana suatu kelompok harus membuat keputusan.
Karakteristik Kelompok antara lain :
1. Terdiri dari dua orang atau lebih dalam interaksi sosial baik secara verbal maupun non verbal.
2. Anggota kelompok harus mempunyai pengaruh satu sama lain supaya dapat diakui menjadi anggota suatu kelompok
3. Mempunyai struktur hubungan yang stabil sehingga dapat menjaga anggota kelompok secara bersama dan berfungsi sebagai suatu unit.
4. Anggota kelompok adalah orang yang mempunyai tujuan atau minat yang sama.
5. Individu yang tergabung dalam kelompok, saling mengenal satu sama lain serta dapat membedakan orang-orang yang bukan anggota kelompoknya.

TAHAPAN PEMBENTUKAN KELOMPOK :
Perkembangan sebuah kelompok selalu berbeda satu dengan yang lainnya. Namun demikian, terdapat beberapa cara yang dapat digunakan untuk membentuk sebuah kelompok. Berikut ini adalah beberapa tahapan dalam pembentukan kelompok.

A. Forming.
Forming adalah tahap orang berkumpul dan membentuk sebuah kelompok. Pada suatu kegiatan, tidak sedikit peserta yang mengikutinya karena penugasan. Kondisi seperti ini tidak jarang menimbulkan perasaan was-was maupun keraguan di hati peserta tersebut.

B. Informing.
Informing merupakan tahap dimana kelompok yang baru terbentuk tersebut diberi penjelasan tentang tujuan dari kegiatan yang akan diselenggarakan. Pada tahap ini biasanya akan didapati interaksi antaranggota karena setiap peserta mulai sadar bahwa mereka menuju pada tujuan yang sama. Seorang fasilitator biasanya akan mencari titik pijak yang sama, dan membentuk visi, misi, serta tujuan kelompok. Fasilitator diharapkan dapat menggunakan kegiatan pengenalan dan agenda yang jelas.

C. Storming.
Pada tahap ini, pembangunan peran diantara masing-masing peserta mulai terbentuk. Storming merupakan fase yang sangat penting dalam dinamika kelompok, karena pada tahap ini akan terjadi tarik menarik, uji coba, bahkan konflik. Benturan antarpribadi sangat mungkin terjadi pada tahap ini – bahkan benturan antara peserta dengan pemimpin kelompok. Seorang fasilitator diharapkan dapat memberikan dukungan kepada seluruh kelompok. Dengan mengembangkan dan menggunakan teknik-teknik fasilitasi, fasilitator juga perlu senantiasa mengingatkan peserta akan tujuan dan norma-norma kelompok. Usahakan agar fasilitator dapat menjaga terjadinya keterbukaan dan mendorong setiap peserta untuk mengatasi konflik yang terjadi.

D. Norming.
Tahapan ini merupakan tahap stabilisasi dimana aturan, ritual, dan prosedur telah ditetapkan dan diterima oleh seluruh peserta. Peserta telah menyepakati identitas perasn sehingga terciptanya suasana kebersamaan. Jalan menuju kemajuan disepakati dan disetujui bersama. Fasilitator diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam menghaluskan proses. Jika diperlukan, perbaiki atau sesuaikan norma yang ada, untuk kemudian diserahkan kembali implementasinya kepada kelompok.


E. Mourning.
Mourning merupakan tahap akhir dari proses pembentukan sebuah kelompok. Pada tahapan ini, seluruh tugas telah selesai dikerjaan dan tujuan utama pembentukan kelompok sudah terpenuhi. Siklus kehidupan kelompok secara resmi telah berakhir. Terkadang muncul rasa sedih diantara peserta. Sebagian mulai memikirkan tugas lain yang telah menanti. Fasilitator yang baik diharapkan dapat membantu peserta dalam mempersiapkan masa transisi dari pembentukan kelompok menuju bubarnya kelompok.

F. Transforming.
Pada tahapan ini, tim telah menjadi dinamis karena pembentukan kelompok sudah terjadi dan mulai ada perubahan baik di masing-masing peserta maupun pada kelompok secara keseluruhan. Sebagai seorang fasilitator, diharapkan dapat menunjukkan dukungan dan rasa percaya kepada kelompok. Hargai perubahan yang terjadi dengan memberikan pujian. Yang perlu diingat adalah sebaiknya pujian yang diberikan tidak berlebihan.

KEKUATAN TEAM WORK
Teamwork atau kerja sama tim merupakan bentuk kerja kelompok yang bertujuan untuk mencapai target yang sudah disepakati sebelumnya. Harus disadari bahwa teamwork merupakan peleburan berbagai pribadi yang menjadi satu pribadi untuk mencapai tujuan bersama. Tujuan tersebut bukanlah tujuan pribadi, bukan tujuan ketua tim, bukan pula tujuan dari pribadi paling populer di tim.
Dalam sebuah tim yang dibutuhkan adalah kemauan untuk saling bergandeng-tangan menyelesaikan pekerjaan. Bisa jadi satu orang tidak menyelesaikan pekerjaan atau tidak ahli dalam pekerjaan A, namun dapat dikerjakan oleh anggota tim lainnya. Inilah yang dimaksudkan dengan kerja tim, beban dibagi untuk satu tujuan bersama.
        
         Saling mengerti dan mendukung satu sama lain merupakan kunci kesuksesan dari teamwork. Jangan pernah mengabaikan pengertian dan dukungan ini. Meskipun terjadi perselisihan antar pribadi, namun dalam tim harus segera menyingkirkannya terlebih dahulu. Bila tidak kehidupan dalam tim jelas akan terganggu. Bahkan dalam satu tim bisa jadi berasal dari latar belakang divisi yang berbeda yang terkadang menyimpan pula perselisihan. Makanya sangat penting untuk menyadari bahwa kebersamaan sebagai anggota tim di atas segalanya.

Berikut poin-poin teamwork yang baik:
a.       Teamwork adalah kerjasama dalam tim yang biasanya dibentuk dari beragam divisi dan kepentingan.
b.      Sama-sama bekerja bukanlah teamwork, itu adalah kerja individual.
c.       Filosofi teamwork: ‘saya mengerjakan apa yang Anda tidak bisa dan Anda mengerjakan apa yang saya tidak bisa
d.      Ketika berada dalam teamwork, segala ego pribadi, sektoral, deparmen harus disingkirkan.
e.       Dalam teamwork yang dikejar untuk dicapai adalah target bersama, bukan individual.
f.       Keragaman individu dalam teamwork memang sebuah nilai plus namun bisa menjadi minus jika tidak ada saling pengertian.
g.      Saling pengertian terhadap karakter masing-masing anggota team akan menjadi modal sukses bersama.
h.      Jika setiap orang bekerjasama via bidang masing-masing, target korporasi pasti akan segera terealisasi.
i.        Individu yang egois mengejar target pribadi akan menghambat keberhasilan team     
j.        Keahlian masing-masing sungguh menjadi anugerah dalam teamwork yang akan mempercepat proses pencapaian target.
k.      Kendalikan ego dan emosi saat bersama agar pergesekan tidak berujung pada pemboikotan kerjasama.
l.        Dengan pemahaman yang tinggi soal karakter individu dalam team, realisasi target
             tidak perlu waktu yang lama.
IMPLIKASI MANAJERIAL
Menurut kamus besar Bahasa Indonesia , kata implikasi berarti akibat. Kata implikasi sendiri dapat merujuk ke beberapa aspek yaitu salah satunya yang dibahas saat ini adalah manajerial atau manajemen.
Teori X dan Y
Teori ini dikemukakan oleh Douglas Mc. Gregor (1967) yang memiliki pandangan yang berbeda terhadap manusia yaitu pada dasarnya manusia bersifat negative (Teori X) dan bersifat positife (Teori Y) Mc. Gregor menyimpulkan bahwa pandangan seorang manajer tentang sifat manusia didasarkan pada pengelompokan asumsi tertentu dan manajer tersebut cenderung membentuk perilakunya terhadap bawahan sesuai dengan asumsi tersebut. Dalam Teori X terdapat empat asumsi , yaitu diantaranya :
1. bawahan tidk suka bekerja dan bilamana mungkin akan berusaha menghindarinya
2. karena bawahan tidak suka bekerja , mereka harus dipaksa , dikendalikan atau diancam dengan hukuman
3. bawahan akan mengelak tanggung jawab dan sedapat mungkin hanya mengikuti perintah formal
4. kebanyakan bawahan mengutamakan rasa aman (agar tidak ada alasan untuk dipecat ) dan hanya menunjukan sedikit ambisi
Sedangkan , dalam teori X diasumsikan bahwa :
1. bawahan memandang bahwa pekerjaan sama alamiyahnya dengan istirahat dan bermain
2. seseorang yang memiliki komitmen paada tujuan akan melakukan pengarahan dan pengendalian diri
3. seseorang yang biasa-biasa saja dapat belajar untuk menerima , bahkan mencari tanggung jawab
4. kreativitas yaitu kemampuan untuk membuat keputusan yang baik (pendelegasian wewenang dan tanggung jawab)
Implikasi Terhadap Sistem Komunikasi Organisasi
Teori ini memusatkan bagaimana seorang pemimpin memotivasi orang-orang dengan tipe dan y sehingga mampu berkontribusi dalam suatu organisasi . Tipe X yang cenderung malas bekerja dan menyukai diperintah, mungkin akan membutuhkan saluran komunikasi yang formal , dimana pemimpin dapat menginstruksikan berbagai perintah secara formal. Berbeda dengan tipe Y , antara pemimpin dengan bawahan akan lebih sering berkomunikasi secara informal atau partisipatif. Hal ini dilakukan karena kedua belah pihak sudah saling memahami dan bawahan memiliki pengalaman yang sudah baik.
Motivasi yang diberikan kepada tipe x , mungkin akan cenderung dengan pemberian hukuman yang tegas sehingga berbagai peraturan tertulis sebagai media komunikasi akan sangat dibutuhkan . sedangkan untuk tipe y , komunikasi akan sangat mempengaruhi karena motivasi yang diberikan lebih cenderung kepada aktualisasi diri untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan atau kebijakan dalam organisasi

Daftar Pustaka :
Ringkasan dari buku “Making Teams Work by Michael Maginn”
Faules, Don F. 2005. Komunikasi Organisasi. Bandung : Remaja Rosda Karya
http://aurigazalea21.blogspot.com/2011/10/kerjasama-tim-teamwork.html dikutip pukul : 22:09 tanggal : 28 Juni 2014


Rabu, 14 Mei 2014

Pengambilan Keputusan Dalam Organisasi

Nama : Nova Karlasemi
NPM : 15112379
KELAS : 2KA01


BAB 1
PENDAHULUAN
Pengambilan Keputusan Dalam Organisasi
1.1.         Latar Belakang
Dalam suatu lingkungan kelompok masyarakat atau dalam sebuah organisasi sangat di butuhkan adanya kerja sama dari setiap anggotanya. Kerjasama yang solid seperti contohnya dalam menyelesaikan suatu pekerjaan atau pada saat ada suatu permasalahan dalam organisasi tersebut. Suatu permasalahan ataupun pekerjaan akan terasa lebih  mudah selelsai apabila diselesaikannya secara bersama-sama. Adanya saling tukar pendapat satu dengan yang lainnya agar ditemukan suatu solusi yang tepat untuk permasalahan tersebut.
Dalam suatu permasalahan tentunya dibutuhkan solusi yang paling tepat diantara solusi-solusi yang mungkin dapat juga menyelesaikan permasalahan tersebut. Untuk menentukan solusi yang paling tepat itu dibutuhkan suatu pengambilan keputusan. Dalam pengambilan keputusan ini bukan lah hal yang mudah, dibutuhkan ketelitian dan kebijaksanaan dalam mengambil suatu keputusan diantara banyaknya solusi yang tepat namun kita harus mengambil solusi yang paling tepatnya. Semakin banyak solusi yang ada semakin sulit mengambil suatu keputusan, tetap kita harus memilih mana solusi terbaik untuk organisasi tersebut.
1.2.            Batasan Masalah
Dalam penyusunan makalah ini akan dibahas tentang :
1.            Definisi dan dasar pengambilan keputusan
2.            Jenis – jenis keputusan organisasi.
3.            Factor – factor yang mempengaruhi pengambilan keputusan
4.            Impikasi Manajerial

1.3.            Tujuan
     Tujuan dari tugas softskil ini yang berjudul “ Pengambilan keputusan dalam organisasi “ selain ditujukan sebagai tugas Mata Kuliah : Teori Organisasi Umum 2 juga sebagai media agar pembaca dapat mengerti tentang definisi keputusan dalam organisasi, jenis – jenis keputusan dalam organisasi dan factor-faktor yang mempengaruhi organisasi.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Definisi Keputusan
Sebelum kita membahas lebih jauh , sebelumnya kita harus ketahui terlebih dulu apa itu pengertian keputusan. Berikut ini ada definisi keputusan antara lain sebagai berikut :
1.      Ralph C. Davis (Hasan, 2004) memberikan definisi atau atau pengertian keputusan sebagai hasil pemecahan masalah yang dihadapinya dengan tegas. Suatu keputusan merupakan jawaban yang pasti terhadap suatu pertanyaan. Keputusan harus dapat menjawab pertanyaan tentang apa yang dibicarakan dalam hubungannya dengan perencanaan. Keputusan dapat pula berupa tindakan terhadap pelaksanaan yang sangat menyimpang dari rencana semula.
2.      Keputusan adalah suatu pemutusan atau pengakhiran dari pada suatu proses pemikiran tentang suatu masalah atau problem, untuk menjawab pertanyaan apa yang harus diperbuat guna mengatasi masalah tersebut, dengan menjadikan pilihan pada salah satu alternative tertentu. Atmosudirsjo S Prajudi(1982:87).
3.      Pengambilan keputusan yaitu hal yang dilakukan oleh ketua dalam suatu kegiatan yang dilakukan dalam organisasi untuk mengambil suatu tindakan atau pilihan yang harus dilakukan yang akan menghasilkan keputusan untuk kebaikan bersama (stephen P.Robbins: manajemen).
Dari beberapa definisi keputusan di atas, ,maka dapat disimpulkan bahwa Pengambilan Keputusan Merupakan bagian dari tanggung jawab pimpinan organisasi yang membuthkan informasi lengkap, benar, dan up to date. Sebelum keputusan diambil, terlebih dulu perlu dirumuskan dan dibuat alternatif-alternatifnya. dari satu alternatif yang dipilih kemudian harus tetap dipantau pelaksanaanya.
2.2. Dasar Pengambilan Keputusan
George R. Terry menyebutkan 5 dasar   dalam pengambilan keputusan, yaitu:
1.      Intuisi = Pengambilan keputusan berdasarkan intuisi adalah pengambilan keputusan  yang berdasarkan perasaan yang sifatnya subyektif. Waktu yang digunakan untuk mengambil keputusan relatif pendek, tetapi keputusan yang dihasilkan seringkali relatif  kurang baik karena seringkali mengabaikan dasar-dasar pertimbangan lainnya.
2.      Pengalaman = Pengambilan keputusan berdasarkan pengalaman memiliki manfaat bagi pengetahuan praktis, karena dengan pengalaman yang dimiliki seseorang, maka dapat memperkirakan keadaan sesuatu, dapat memperhitungkan untung-ruginya dan baik-buruknya keputusan yang akan dihasilkan.
3.      Wewenang = Pengambilan keputusan berdasarkan wewenang biasanya dilakukan oleh pimpinan terhadap bawahannya, atau oleh orang yang lebih tinggi kedudukannya kepada orang yang lebih rendah kedudukannya.
4.      Fakta = Pengambilan keputusan berdasarkan data dan fakta empiris dapat memberikan keputusan yang sehat, solid dan baik. Dengan fakta, tingkat kepercayaan terhadap pengambil keputusan dapat lebih tinggi, sehingga orang dapat menerima keputusan yang dibuat itu dengan rela dan lapang dada.
5.      Rasional = Pada pengambilan keputusan yang berdasarkan rasio, keputusan yang dihasilkan bersifat objektif, logis, lebih transparan dan konsisten untuk memaksimumkan hasil atau nilai dalam batas kendala tertentu, sehingga dapat dikatakan mendekati kebenaran atau sesuai dengan apa yang diinginkan.

2.3. Jenis-jenis keputusan organisasi.
Secara umum keputusan dibedakan menjadi 2  keputusan yang diprogramkan (program decision) melibatkan masalah-masalah yang sederhana, umum, dan kerap terjadi dimana solusinya telah ditentukan sebelumnya. dan keputusan yang tidak diprogramkan (non-programmed decision) masalah-masalah lain yang lebih rumit. Louis E Boone dan David L. Kurtz (2007 : 394).
Jenis keputusan dibagi menjadi tiga macam :
1.    keputusan terstruktur adalah keputusan yang dilakukan secara berulang-ulang dan bersifat rutin.
2.    Keputusan semiterstruktur adalah keputusan yang mempunyai sifat sebagai keputusan dapat ditangani oleh komputer dan yang lain tetap harus dilakukan oleh pengambil keputusan.
3.    Keputusan tak terstruktur adalah keputusan yang penangananya rumit, karena tidak terjadi berulang-ulang atau tidak sengaja terjadi.

2.4. Factor – factor yang mempengaruhi pengambilan keputusan
Dalam mengambil suatu keputusan pastinya ada penyebab nya, yang mengharuskan diambilnya suatu keputusan yang tepat. Berikut ini merupakan Factor – factor yang mempengaruhi pengambilan keputusan antara lain sebagai berikut :
1.      Fisik
Didasarkan pada rasa yang dialami pada tubuh, seperti rasa tidak nyaman, atau kenikmatan. Ada kecenderungan menghindari tingkah laku yang menimbulkan rasa tidak senang, sebaliknya memilih tingkah laku yang memberikan kesenangan.
2.      Emosional
Didasarkan pada perasaan atau sikap. Orang akan bereaksi pada suatu situasi secara subjective.
3.      Rasional
Didasarkan pada pengetahuan orang-orang mendapatkan informasi, memahami situasi dan berbagai konsekuensinya.
4.      Praktikal
Didasarkan pada keterampilan individual dan kemampuan melaksanakan. Seseorang akan menilai potensi diri dan kepercayaan dirinya melalui kemampuanya dalam bertindak.
5.      Interpersonal
Didasarkan pada pengaruh jaringan sosial yang ada. Hubungan antar satu orang keorang lainnya dapat mempengaruhi tindakan individual.
6.      Struktural
Didasarkan pada lingkup sosial, ekonomi dan politik. Lingkungan mungkin memberikan hasil yang mendukung atau mengkritik suatu tingkah laku tertentu. 


2.5. Implikasi Manajerial
       Implikasi Manajerial dalam pengambilan keputusan suatu organisasi adalah dalam suatu perusahaan dimana seorang manajer harus teliti dan bijaksana dalam mengambil suatu keputusan. Karena keputusan yang diambil akan berpengaruh terhadap perusahaan tersebut. Seorang manajer harus mampu berfikir rasional agar keputusan yang dia ambil itu jelas dan tepat.

Daftar Pustaka :
Keputusan dan Sistem Informasi ,Ibnu Syamsi ; 2007
Prajudi, Atmosudirdjo S. 1982 Beberapa Pandangan Umum Tentang Pengambilan Keputusan : Decision Making. Jakarta : Ghalia Indonesia.
P.Robbins, Stephen & Mary Coulter. 2005. Management, eight edition. Erlangga: Jakart.
Boone, Louis E dan David L. Kurtz. 2007. Pengantar bisnis kontemporer. Selemba Empat : Jakarta.

http://idhoidhoy.blogspot.com/2013/04/faktor-faktor-yang-mempengaruhi.html dikutip 11 mei 2014 pukul 19 : 25

Minggu, 13 April 2014

KEPEMIMPINAN

Nama : Nova Karlasemi
NPM : 15112379
Kelas : 2KA01
UNIVERSITAS GUNADARMA

Manusia dengan lingkungan sosialnya memiliki hubungan yang sangat erat kaitannya. Manusia sebagai mahluk sosial berada di dalam suatu wadah yang di sebut lingkungan masyarakat. Seperti yang telah kita ketahui bersama, bahwa manusia tidaklah bisa hidup seorang diri. Di dalam lingkungan sosialnya itulah manusia menemukan teman sosialnya, yang dimana mereka akan saling berhubungan , saling bertukar pikiran , maupun saling membantu satu dengan yang lainnya.
Manusia harus bisa mengatur hubungan yang ada di dalam lingkungan sosialnya tersebut. Manusia harus bisa menempatkan dirinya, apabila dia sedang berada pada lingkungan besarnya atau pada lingkungan yang kecil. Lingkungan kecil contohnya keluarga, keluarga menjadi salah satu factor pendukung berkembangnya kepribadian seorang manusia. Dimana kepribadian akan terbentuk dari suatu interaksi yang terjalin dalam suatu keluarga, sehingga manusia dapat mengatur tingkah lakunya ketika ia berada di luar lingkungan keluarganya.
Manusia akan di hadapkan pada lingkungan besarnya pada saat ia keluar dari lingkungan kecilnya. Lingkungan besar yang di maksud ialah lingkungan kelompok masyarakat. Di dalam kelompok masyarakat, manusia akan di hadapkan pada masalah-masalah yang harus di selessaikan. Dimana dibutuhkan keharmonisan antar anggota masyarakat sehingga suatu pekerjaan dapat terselesaikan dengan baik dan masalah yang ada pun akan lebih mudah di temukan solusinya. Sikap saling menghormati dan menghargai haruslah terjalun dengan erat, agar keteraturean hidup selalu terjaga dengan baik dalam kelompok masyarakat tersebut.
Perbedaan pendapat seringlah terjadi dalam kelompok masyarakat. Menyatukan beberapa kepala yang saling berbeda pemikiran bukanlah hal yang mudah. Belum lagi banyaknya keinginan untuk menjadi penguasa atau menjadi yang tertinggi , ini memungkinkan terjadinya suatu persaingan di antara manusia tersebut. Maka dari itu, dalam kelompok masyarakat di butuhkan suatu sosok yang mampun menjadi penengah diantara mereka. Sosok yang dimaksud ialah sosok seorang pemimpin.
Manusia diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa dengan kemampuan yang sangat sempurna. Dimana Tuhan menganugerahkan kemampuan berfikir sehingga manusia dapat memilah mana yang baik dan mana yang tidak baik bagi dirinya. Sehingga dengan kemampuannya itu manusia dapat mengelola lingkungannya dengan baik. Manusia juga mempunyai jiwa pemimpin, selain mampu memimpin dirinya sendiri manusia haruslah bisa berlaku sebagai pemimpin di dalam lingkungan masyarakatnya.
Pemimpin dalam kelompok masyarakat bertugas mengelola lingkungan masyarakat, menyamakan perbedaan-perbadaan yang ada menjadi satu pemikiran dan keputusan bersama. Sehingga akan ditemukannya suatu solusi bersama demi terciptanya tujuan berssama dalam kelompok masyarakat tersebut.


Pengertian Kepemimpinan
Berikut ini ada beberapa definisi dari kepemimpinan, antara lain sebagai berikut :
·         Menurut Tead; Terry; Hoyt (dalam Kartono, 2003) pengertian kepemimpinan yaitu kegiatan atau seni mempengaruhi orang lain agar mau bekerjasama yang didasarkan pada kemampuan orang tersebut untuk membimbing orang lain dalam mencapai tujuan-tujuan yang diinginkan kelompok.
·       Menurut Young (dalam Kartono, 2003) Pengertian Kepemimpinan yaitu bentuk dominasi yang didasari atas kemampuan pribadi yang sanggup mendorong atau mengajak orang lain untuk berbuat sesuatu yang berdasarkan penerimaan oleh kelompoknya, dan memiliki keahlian khusus yang tepat bagi situasi yang khusus.
·     Moejiono (2002) memandang bahwa leadership tersebut sebenarnya sebagai akibat pengaruh satu arah, karena pemimpin mungkin memiliki kualitas-kualitas tertentu yang membedakan dirinya dengan pengikutnya. Para ahli teori sukarela (compliance induction theorist) cenderung memandang leadership sebagai pemaksaan atau pendesakan pengaruh secara tidak langsung dan sebagai sarana untuk membentuk kelompok sesuai dengan keinginan pemimpin (Moejiono, 2002).

Berdasarkan beberapa pengertian menurut para ahli diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa kepemimpinan adalah suatu proses dimana seseorang mempengaruhi orang lain atau suatu kelompok dalam organisasi untuk mencapai tujuan tertentu. Pemimpin menjadi panutan anggota kelompoknya, menjadi penengah dalam suatu permasalahan dan menentukan satu solusi yang tepat untuk suatu permasalahan. Mempengaruhi disini di maksudkan bahwa seorang pemimpin haruslah mampu memotivasi anggotanya agar mereka saling bekerja sama dalam mencapai suatu tujuan yang sama pula.

Tipologi Kepemimpinan 
Tipologi kepemimpinan merupakan tipe-tipe kepemimpinan lain yang ada disekitar kita, berikut adalah tipe kepemimpinan menurut (Siagian,1997)  :
a.        Tipe Otokratis
·         Menganggap organisasi sebagai milik pribadi.
·         Mengidentikkan tujuan pribadi dengan tujuan organisasi.
·         Menganggap bawahan sebagai alat semata-mata.
·         Tidak mau menerima kritik, saran dan pendapat .
·         Terlalu tergantung kepada kekuasaan formalnya.
·         Dalam menggerakan bawahannya sering menggunakan pendekatan yang mengandung unsur paksaan dan bersifat menghukum.
b.      Tipe Demokratis
·         Tidak berfikiran bahwa pemimpin adalah manusia mulia yang harus dihormati dan sebagainya.
·         Menyingkronisasikan kepentingan dan tujuan organisasi dengan kepentingan dan tujuan pribadi bawahannya
·         Senang menerima saran dan kritik.
·         Mengedepankan kerjasama atau teamwork
·         Memberikan kebebasan bawahannya untuk melakukan kesalahan dan kesempatan untuk bawahannya memperbaiki kesalahannya tersebut dengan kebijakan tertentu.
·         Selalu berusaha untuk menjadikan bawahannya lebih sukses.
·         Berusaha mengembangkan kapasitas diri pribadinya sebagai pemimpin.
c.       Tipe Militeris
·         Menggunakan perintah dalam menggerakan bawahannya.
·         Senang menggunakan jabatan dan pangkat dalam memberikan perintah.
·         Menuntut displin yang tinggi dan melebih-lebihkan formalitas.
·         Sukar menerima kritikan.
·         Menggemari upacara untuk berbagai keadaan.
d.      Tipe Paternalistis
·         Menganggap bawahannya tidak dewasa.
·         Bersikap terlalu melindungi.
·         Jarang memberi kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil inisiatif dan mengembangkan kreasinya.
·         Sering bersikap sok tahu yang berlebihan.
e.       Tipe Karismatik
Tipe kepemimpinan ini tidak dapat dijelaskan secara nyata karena pemimpin yang disukai karena karismanya cenderung tidak memiliki patokan khusus dalam mencirikan apa yang disukai dari sifat kepemimpinan dengan tipe ini. Karisma seorang pemimpin  biasanya tercipta secara alami dari sikap pribadi pemimpin tersebut.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kepemimpinan

Kepemimpinan tidaklah lahir begitu saja, tetapi ada faktor-faktor yang mempengaruhi kepemimpinan tersebut. seperti yang dikutip Nanang Fattah dari H jodeph Reitz(1981), beliau mengatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kepemimpinan antara lain sebagai berikut :
1. Kepribadian (personality), pengalaman masa lalu dan harapan pemimpin, hal ini mencakup nilai-nilai, latar belakang dan pengalamannya akan mempengaruhi pilihan akan gaya kepemimpinan.
2. Harapan dan perilaku atasan.
3. karakteristik, harapan dan perilaku bawahan mempengaruhi terhadap apa gaya kepemimpinan
4. Kebutuhan tugas, setiap tugas bawahan juga akan mempengaruhi gapa pemimpin
5. Iklim dan kebijakan organisasi mempengaruhi harapan dan prilaku bawahan 
6. harapan dan perilaku rekan,

Dari beberapa faktor yang telah disebutkan di atas, sudah jelas bahwa faktor-faktor tersebut sangatlah penting bagi seorang pemimpin dalam menjalankan tugas kepemimpinannya. Dimana seorang pemimpin itu memiliki skill dan pengalaman yang lebih banyak sehingga dapat mengelola suatu organisasi dengan baik. suatu organisasi yang baik yaitu organisasi yang antara pemimpin dengan bawahannya itu saling bekerja sama menciptakan suatu keharmonisan bersama agar cita-cita yang di impikan bersama dapat terpenuhi.

Implikasi Manajerial Kepemimpinan dalam Organisasi

Teori dikemukakan oleh Robert K. Blake dan Jane S. Mouton yang membedakan dua dimensi dalam kepemimpinan, yaitu “concern for people” dan “concern for production”. Pada dasarnya teorimanagerial grid ini mengenal lima gaya kepemimpinan yang didasarkan atas dua aspek tersebut, yaitu :

Improvised artinya pemimpin menggunakan usaha yang paling sedikit untuk menyelesaikan tugas tertentu dan hal ini dianggap cukup untuk mempertahankan organisasi.
Country Club artinya kepemimpinann didasarkan kepada hubungan informal antara individu artinya perhatian akan kebutuhan individu dengan persahabatan dan menimbulkan suasana organisasi dan tempo kerja yang nyaman dan ramah.

Team yaitu kepemimpinan yang didasarkan bahwa keberhasilan suatu organisasi tergantung kepada hasil kerja sejumlah individu yang penuh dengan pengabdian dan komitmen. Tekanan untama terletak pada kepemimpinan kelompok yang satu sama lain salingmemerlukan. Dasar dari kepemimpinan kelompok ini adalah kepercayaan dan penghargaan.

Task artinya pemimpin memandang efisiensi kerja sebagai factor utama keberhasilan organisasi. Penampilan terletak pada penampilan individu dalam organisasi.
Midle Road artinya kepemimpinan yang menekankan pada tingkat keseimbangan antara tugas dan hubungan manusiawi , dengan kata lain kinerja organisasi yang mencukupi dimungkinkan melalui penyeimbangan kebutuhan untuk bekerja dengan memelihara moral individu pada tingkat yang memuaskan.




Daftar Pustaka

http://belajarpsikologi.com/pengertian-kepemimpinan-menurut-para-ahli/ (di kutip tanggal 13 April 2014, pukul 21:58)

M.Mas’ud Said, Kepemimpinan : Pengembangan Organisasi Team Building dan Perilaku Inovatif (Malang: UIN-Maliki Press, 2010), 237-244.

Said, M.Mas’ud. 2010. Kepemimpinan : Pengembangan Organisasi Team Building dan Perilaku Inovatif. Malang: UIN-Maliki Press.

Nanang Fattah 1996 Landasan Manajemen Pendidikan (Bandung : Rosdakarya)

http://herisllubers.blogspot.com/2013/06/implikasi-manajerial-kepemimpinan-dalam.html ( 13 April 2014 pukul 22:15)