Rabu, 14 Mei 2014

Pengambilan Keputusan Dalam Organisasi

Nama : Nova Karlasemi
NPM : 15112379
KELAS : 2KA01


BAB 1
PENDAHULUAN
Pengambilan Keputusan Dalam Organisasi
1.1.         Latar Belakang
Dalam suatu lingkungan kelompok masyarakat atau dalam sebuah organisasi sangat di butuhkan adanya kerja sama dari setiap anggotanya. Kerjasama yang solid seperti contohnya dalam menyelesaikan suatu pekerjaan atau pada saat ada suatu permasalahan dalam organisasi tersebut. Suatu permasalahan ataupun pekerjaan akan terasa lebih  mudah selelsai apabila diselesaikannya secara bersama-sama. Adanya saling tukar pendapat satu dengan yang lainnya agar ditemukan suatu solusi yang tepat untuk permasalahan tersebut.
Dalam suatu permasalahan tentunya dibutuhkan solusi yang paling tepat diantara solusi-solusi yang mungkin dapat juga menyelesaikan permasalahan tersebut. Untuk menentukan solusi yang paling tepat itu dibutuhkan suatu pengambilan keputusan. Dalam pengambilan keputusan ini bukan lah hal yang mudah, dibutuhkan ketelitian dan kebijaksanaan dalam mengambil suatu keputusan diantara banyaknya solusi yang tepat namun kita harus mengambil solusi yang paling tepatnya. Semakin banyak solusi yang ada semakin sulit mengambil suatu keputusan, tetap kita harus memilih mana solusi terbaik untuk organisasi tersebut.
1.2.            Batasan Masalah
Dalam penyusunan makalah ini akan dibahas tentang :
1.            Definisi dan dasar pengambilan keputusan
2.            Jenis – jenis keputusan organisasi.
3.            Factor – factor yang mempengaruhi pengambilan keputusan
4.            Impikasi Manajerial

1.3.            Tujuan
     Tujuan dari tugas softskil ini yang berjudul “ Pengambilan keputusan dalam organisasi “ selain ditujukan sebagai tugas Mata Kuliah : Teori Organisasi Umum 2 juga sebagai media agar pembaca dapat mengerti tentang definisi keputusan dalam organisasi, jenis – jenis keputusan dalam organisasi dan factor-faktor yang mempengaruhi organisasi.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Definisi Keputusan
Sebelum kita membahas lebih jauh , sebelumnya kita harus ketahui terlebih dulu apa itu pengertian keputusan. Berikut ini ada definisi keputusan antara lain sebagai berikut :
1.      Ralph C. Davis (Hasan, 2004) memberikan definisi atau atau pengertian keputusan sebagai hasil pemecahan masalah yang dihadapinya dengan tegas. Suatu keputusan merupakan jawaban yang pasti terhadap suatu pertanyaan. Keputusan harus dapat menjawab pertanyaan tentang apa yang dibicarakan dalam hubungannya dengan perencanaan. Keputusan dapat pula berupa tindakan terhadap pelaksanaan yang sangat menyimpang dari rencana semula.
2.      Keputusan adalah suatu pemutusan atau pengakhiran dari pada suatu proses pemikiran tentang suatu masalah atau problem, untuk menjawab pertanyaan apa yang harus diperbuat guna mengatasi masalah tersebut, dengan menjadikan pilihan pada salah satu alternative tertentu. Atmosudirsjo S Prajudi(1982:87).
3.      Pengambilan keputusan yaitu hal yang dilakukan oleh ketua dalam suatu kegiatan yang dilakukan dalam organisasi untuk mengambil suatu tindakan atau pilihan yang harus dilakukan yang akan menghasilkan keputusan untuk kebaikan bersama (stephen P.Robbins: manajemen).
Dari beberapa definisi keputusan di atas, ,maka dapat disimpulkan bahwa Pengambilan Keputusan Merupakan bagian dari tanggung jawab pimpinan organisasi yang membuthkan informasi lengkap, benar, dan up to date. Sebelum keputusan diambil, terlebih dulu perlu dirumuskan dan dibuat alternatif-alternatifnya. dari satu alternatif yang dipilih kemudian harus tetap dipantau pelaksanaanya.
2.2. Dasar Pengambilan Keputusan
George R. Terry menyebutkan 5 dasar   dalam pengambilan keputusan, yaitu:
1.      Intuisi = Pengambilan keputusan berdasarkan intuisi adalah pengambilan keputusan  yang berdasarkan perasaan yang sifatnya subyektif. Waktu yang digunakan untuk mengambil keputusan relatif pendek, tetapi keputusan yang dihasilkan seringkali relatif  kurang baik karena seringkali mengabaikan dasar-dasar pertimbangan lainnya.
2.      Pengalaman = Pengambilan keputusan berdasarkan pengalaman memiliki manfaat bagi pengetahuan praktis, karena dengan pengalaman yang dimiliki seseorang, maka dapat memperkirakan keadaan sesuatu, dapat memperhitungkan untung-ruginya dan baik-buruknya keputusan yang akan dihasilkan.
3.      Wewenang = Pengambilan keputusan berdasarkan wewenang biasanya dilakukan oleh pimpinan terhadap bawahannya, atau oleh orang yang lebih tinggi kedudukannya kepada orang yang lebih rendah kedudukannya.
4.      Fakta = Pengambilan keputusan berdasarkan data dan fakta empiris dapat memberikan keputusan yang sehat, solid dan baik. Dengan fakta, tingkat kepercayaan terhadap pengambil keputusan dapat lebih tinggi, sehingga orang dapat menerima keputusan yang dibuat itu dengan rela dan lapang dada.
5.      Rasional = Pada pengambilan keputusan yang berdasarkan rasio, keputusan yang dihasilkan bersifat objektif, logis, lebih transparan dan konsisten untuk memaksimumkan hasil atau nilai dalam batas kendala tertentu, sehingga dapat dikatakan mendekati kebenaran atau sesuai dengan apa yang diinginkan.

2.3. Jenis-jenis keputusan organisasi.
Secara umum keputusan dibedakan menjadi 2  keputusan yang diprogramkan (program decision) melibatkan masalah-masalah yang sederhana, umum, dan kerap terjadi dimana solusinya telah ditentukan sebelumnya. dan keputusan yang tidak diprogramkan (non-programmed decision) masalah-masalah lain yang lebih rumit. Louis E Boone dan David L. Kurtz (2007 : 394).
Jenis keputusan dibagi menjadi tiga macam :
1.    keputusan terstruktur adalah keputusan yang dilakukan secara berulang-ulang dan bersifat rutin.
2.    Keputusan semiterstruktur adalah keputusan yang mempunyai sifat sebagai keputusan dapat ditangani oleh komputer dan yang lain tetap harus dilakukan oleh pengambil keputusan.
3.    Keputusan tak terstruktur adalah keputusan yang penangananya rumit, karena tidak terjadi berulang-ulang atau tidak sengaja terjadi.

2.4. Factor – factor yang mempengaruhi pengambilan keputusan
Dalam mengambil suatu keputusan pastinya ada penyebab nya, yang mengharuskan diambilnya suatu keputusan yang tepat. Berikut ini merupakan Factor – factor yang mempengaruhi pengambilan keputusan antara lain sebagai berikut :
1.      Fisik
Didasarkan pada rasa yang dialami pada tubuh, seperti rasa tidak nyaman, atau kenikmatan. Ada kecenderungan menghindari tingkah laku yang menimbulkan rasa tidak senang, sebaliknya memilih tingkah laku yang memberikan kesenangan.
2.      Emosional
Didasarkan pada perasaan atau sikap. Orang akan bereaksi pada suatu situasi secara subjective.
3.      Rasional
Didasarkan pada pengetahuan orang-orang mendapatkan informasi, memahami situasi dan berbagai konsekuensinya.
4.      Praktikal
Didasarkan pada keterampilan individual dan kemampuan melaksanakan. Seseorang akan menilai potensi diri dan kepercayaan dirinya melalui kemampuanya dalam bertindak.
5.      Interpersonal
Didasarkan pada pengaruh jaringan sosial yang ada. Hubungan antar satu orang keorang lainnya dapat mempengaruhi tindakan individual.
6.      Struktural
Didasarkan pada lingkup sosial, ekonomi dan politik. Lingkungan mungkin memberikan hasil yang mendukung atau mengkritik suatu tingkah laku tertentu. 


2.5. Implikasi Manajerial
       Implikasi Manajerial dalam pengambilan keputusan suatu organisasi adalah dalam suatu perusahaan dimana seorang manajer harus teliti dan bijaksana dalam mengambil suatu keputusan. Karena keputusan yang diambil akan berpengaruh terhadap perusahaan tersebut. Seorang manajer harus mampu berfikir rasional agar keputusan yang dia ambil itu jelas dan tepat.

Daftar Pustaka :
Keputusan dan Sistem Informasi ,Ibnu Syamsi ; 2007
Prajudi, Atmosudirdjo S. 1982 Beberapa Pandangan Umum Tentang Pengambilan Keputusan : Decision Making. Jakarta : Ghalia Indonesia.
P.Robbins, Stephen & Mary Coulter. 2005. Management, eight edition. Erlangga: Jakart.
Boone, Louis E dan David L. Kurtz. 2007. Pengantar bisnis kontemporer. Selemba Empat : Jakarta.

http://idhoidhoy.blogspot.com/2013/04/faktor-faktor-yang-mempengaruhi.html dikutip 11 mei 2014 pukul 19 : 25

Minggu, 13 April 2014

KEPEMIMPINAN

Nama : Nova Karlasemi
NPM : 15112379
Kelas : 2KA01
UNIVERSITAS GUNADARMA

Manusia dengan lingkungan sosialnya memiliki hubungan yang sangat erat kaitannya. Manusia sebagai mahluk sosial berada di dalam suatu wadah yang di sebut lingkungan masyarakat. Seperti yang telah kita ketahui bersama, bahwa manusia tidaklah bisa hidup seorang diri. Di dalam lingkungan sosialnya itulah manusia menemukan teman sosialnya, yang dimana mereka akan saling berhubungan , saling bertukar pikiran , maupun saling membantu satu dengan yang lainnya.
Manusia harus bisa mengatur hubungan yang ada di dalam lingkungan sosialnya tersebut. Manusia harus bisa menempatkan dirinya, apabila dia sedang berada pada lingkungan besarnya atau pada lingkungan yang kecil. Lingkungan kecil contohnya keluarga, keluarga menjadi salah satu factor pendukung berkembangnya kepribadian seorang manusia. Dimana kepribadian akan terbentuk dari suatu interaksi yang terjalin dalam suatu keluarga, sehingga manusia dapat mengatur tingkah lakunya ketika ia berada di luar lingkungan keluarganya.
Manusia akan di hadapkan pada lingkungan besarnya pada saat ia keluar dari lingkungan kecilnya. Lingkungan besar yang di maksud ialah lingkungan kelompok masyarakat. Di dalam kelompok masyarakat, manusia akan di hadapkan pada masalah-masalah yang harus di selessaikan. Dimana dibutuhkan keharmonisan antar anggota masyarakat sehingga suatu pekerjaan dapat terselesaikan dengan baik dan masalah yang ada pun akan lebih mudah di temukan solusinya. Sikap saling menghormati dan menghargai haruslah terjalun dengan erat, agar keteraturean hidup selalu terjaga dengan baik dalam kelompok masyarakat tersebut.
Perbedaan pendapat seringlah terjadi dalam kelompok masyarakat. Menyatukan beberapa kepala yang saling berbeda pemikiran bukanlah hal yang mudah. Belum lagi banyaknya keinginan untuk menjadi penguasa atau menjadi yang tertinggi , ini memungkinkan terjadinya suatu persaingan di antara manusia tersebut. Maka dari itu, dalam kelompok masyarakat di butuhkan suatu sosok yang mampun menjadi penengah diantara mereka. Sosok yang dimaksud ialah sosok seorang pemimpin.
Manusia diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa dengan kemampuan yang sangat sempurna. Dimana Tuhan menganugerahkan kemampuan berfikir sehingga manusia dapat memilah mana yang baik dan mana yang tidak baik bagi dirinya. Sehingga dengan kemampuannya itu manusia dapat mengelola lingkungannya dengan baik. Manusia juga mempunyai jiwa pemimpin, selain mampu memimpin dirinya sendiri manusia haruslah bisa berlaku sebagai pemimpin di dalam lingkungan masyarakatnya.
Pemimpin dalam kelompok masyarakat bertugas mengelola lingkungan masyarakat, menyamakan perbedaan-perbadaan yang ada menjadi satu pemikiran dan keputusan bersama. Sehingga akan ditemukannya suatu solusi bersama demi terciptanya tujuan berssama dalam kelompok masyarakat tersebut.


Pengertian Kepemimpinan
Berikut ini ada beberapa definisi dari kepemimpinan, antara lain sebagai berikut :
·         Menurut Tead; Terry; Hoyt (dalam Kartono, 2003) pengertian kepemimpinan yaitu kegiatan atau seni mempengaruhi orang lain agar mau bekerjasama yang didasarkan pada kemampuan orang tersebut untuk membimbing orang lain dalam mencapai tujuan-tujuan yang diinginkan kelompok.
·       Menurut Young (dalam Kartono, 2003) Pengertian Kepemimpinan yaitu bentuk dominasi yang didasari atas kemampuan pribadi yang sanggup mendorong atau mengajak orang lain untuk berbuat sesuatu yang berdasarkan penerimaan oleh kelompoknya, dan memiliki keahlian khusus yang tepat bagi situasi yang khusus.
·     Moejiono (2002) memandang bahwa leadership tersebut sebenarnya sebagai akibat pengaruh satu arah, karena pemimpin mungkin memiliki kualitas-kualitas tertentu yang membedakan dirinya dengan pengikutnya. Para ahli teori sukarela (compliance induction theorist) cenderung memandang leadership sebagai pemaksaan atau pendesakan pengaruh secara tidak langsung dan sebagai sarana untuk membentuk kelompok sesuai dengan keinginan pemimpin (Moejiono, 2002).

Berdasarkan beberapa pengertian menurut para ahli diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa kepemimpinan adalah suatu proses dimana seseorang mempengaruhi orang lain atau suatu kelompok dalam organisasi untuk mencapai tujuan tertentu. Pemimpin menjadi panutan anggota kelompoknya, menjadi penengah dalam suatu permasalahan dan menentukan satu solusi yang tepat untuk suatu permasalahan. Mempengaruhi disini di maksudkan bahwa seorang pemimpin haruslah mampu memotivasi anggotanya agar mereka saling bekerja sama dalam mencapai suatu tujuan yang sama pula.

Tipologi Kepemimpinan 
Tipologi kepemimpinan merupakan tipe-tipe kepemimpinan lain yang ada disekitar kita, berikut adalah tipe kepemimpinan menurut (Siagian,1997)  :
a.        Tipe Otokratis
·         Menganggap organisasi sebagai milik pribadi.
·         Mengidentikkan tujuan pribadi dengan tujuan organisasi.
·         Menganggap bawahan sebagai alat semata-mata.
·         Tidak mau menerima kritik, saran dan pendapat .
·         Terlalu tergantung kepada kekuasaan formalnya.
·         Dalam menggerakan bawahannya sering menggunakan pendekatan yang mengandung unsur paksaan dan bersifat menghukum.
b.      Tipe Demokratis
·         Tidak berfikiran bahwa pemimpin adalah manusia mulia yang harus dihormati dan sebagainya.
·         Menyingkronisasikan kepentingan dan tujuan organisasi dengan kepentingan dan tujuan pribadi bawahannya
·         Senang menerima saran dan kritik.
·         Mengedepankan kerjasama atau teamwork
·         Memberikan kebebasan bawahannya untuk melakukan kesalahan dan kesempatan untuk bawahannya memperbaiki kesalahannya tersebut dengan kebijakan tertentu.
·         Selalu berusaha untuk menjadikan bawahannya lebih sukses.
·         Berusaha mengembangkan kapasitas diri pribadinya sebagai pemimpin.
c.       Tipe Militeris
·         Menggunakan perintah dalam menggerakan bawahannya.
·         Senang menggunakan jabatan dan pangkat dalam memberikan perintah.
·         Menuntut displin yang tinggi dan melebih-lebihkan formalitas.
·         Sukar menerima kritikan.
·         Menggemari upacara untuk berbagai keadaan.
d.      Tipe Paternalistis
·         Menganggap bawahannya tidak dewasa.
·         Bersikap terlalu melindungi.
·         Jarang memberi kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil inisiatif dan mengembangkan kreasinya.
·         Sering bersikap sok tahu yang berlebihan.
e.       Tipe Karismatik
Tipe kepemimpinan ini tidak dapat dijelaskan secara nyata karena pemimpin yang disukai karena karismanya cenderung tidak memiliki patokan khusus dalam mencirikan apa yang disukai dari sifat kepemimpinan dengan tipe ini. Karisma seorang pemimpin  biasanya tercipta secara alami dari sikap pribadi pemimpin tersebut.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kepemimpinan

Kepemimpinan tidaklah lahir begitu saja, tetapi ada faktor-faktor yang mempengaruhi kepemimpinan tersebut. seperti yang dikutip Nanang Fattah dari H jodeph Reitz(1981), beliau mengatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kepemimpinan antara lain sebagai berikut :
1. Kepribadian (personality), pengalaman masa lalu dan harapan pemimpin, hal ini mencakup nilai-nilai, latar belakang dan pengalamannya akan mempengaruhi pilihan akan gaya kepemimpinan.
2. Harapan dan perilaku atasan.
3. karakteristik, harapan dan perilaku bawahan mempengaruhi terhadap apa gaya kepemimpinan
4. Kebutuhan tugas, setiap tugas bawahan juga akan mempengaruhi gapa pemimpin
5. Iklim dan kebijakan organisasi mempengaruhi harapan dan prilaku bawahan 
6. harapan dan perilaku rekan,

Dari beberapa faktor yang telah disebutkan di atas, sudah jelas bahwa faktor-faktor tersebut sangatlah penting bagi seorang pemimpin dalam menjalankan tugas kepemimpinannya. Dimana seorang pemimpin itu memiliki skill dan pengalaman yang lebih banyak sehingga dapat mengelola suatu organisasi dengan baik. suatu organisasi yang baik yaitu organisasi yang antara pemimpin dengan bawahannya itu saling bekerja sama menciptakan suatu keharmonisan bersama agar cita-cita yang di impikan bersama dapat terpenuhi.

Implikasi Manajerial Kepemimpinan dalam Organisasi

Teori dikemukakan oleh Robert K. Blake dan Jane S. Mouton yang membedakan dua dimensi dalam kepemimpinan, yaitu “concern for people” dan “concern for production”. Pada dasarnya teorimanagerial grid ini mengenal lima gaya kepemimpinan yang didasarkan atas dua aspek tersebut, yaitu :

Improvised artinya pemimpin menggunakan usaha yang paling sedikit untuk menyelesaikan tugas tertentu dan hal ini dianggap cukup untuk mempertahankan organisasi.
Country Club artinya kepemimpinann didasarkan kepada hubungan informal antara individu artinya perhatian akan kebutuhan individu dengan persahabatan dan menimbulkan suasana organisasi dan tempo kerja yang nyaman dan ramah.

Team yaitu kepemimpinan yang didasarkan bahwa keberhasilan suatu organisasi tergantung kepada hasil kerja sejumlah individu yang penuh dengan pengabdian dan komitmen. Tekanan untama terletak pada kepemimpinan kelompok yang satu sama lain salingmemerlukan. Dasar dari kepemimpinan kelompok ini adalah kepercayaan dan penghargaan.

Task artinya pemimpin memandang efisiensi kerja sebagai factor utama keberhasilan organisasi. Penampilan terletak pada penampilan individu dalam organisasi.
Midle Road artinya kepemimpinan yang menekankan pada tingkat keseimbangan antara tugas dan hubungan manusiawi , dengan kata lain kinerja organisasi yang mencukupi dimungkinkan melalui penyeimbangan kebutuhan untuk bekerja dengan memelihara moral individu pada tingkat yang memuaskan.




Daftar Pustaka

http://belajarpsikologi.com/pengertian-kepemimpinan-menurut-para-ahli/ (di kutip tanggal 13 April 2014, pukul 21:58)

M.Mas’ud Said, Kepemimpinan : Pengembangan Organisasi Team Building dan Perilaku Inovatif (Malang: UIN-Maliki Press, 2010), 237-244.

Said, M.Mas’ud. 2010. Kepemimpinan : Pengembangan Organisasi Team Building dan Perilaku Inovatif. Malang: UIN-Maliki Press.

Nanang Fattah 1996 Landasan Manajemen Pendidikan (Bandung : Rosdakarya)

http://herisllubers.blogspot.com/2013/06/implikasi-manajerial-kepemimpinan-dalam.html ( 13 April 2014 pukul 22:15)



Selasa, 18 Maret 2014

Peran Komunikasi Dalam Organisasi

Nama : Nova Karlasemi
Kelas : 2KA01
NPM : 15112379


Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa manusia itu adalah makhluk sosial. Dimana di dalam lingkungan hidupnya manusia itu tidaklah hidup seorang diri, melainkan ada individu-individu lainnya. Selain harus mempunyai hubungan baik dengan sang pencipta, manusia juga harus memiliki hubungan baik dengan sesamanya. Adanya keterkaitan antara manusia satu dengan manusia yang lainnya yang membuat manusia itu tidaklah bisa hidup seorang diri karena manusia sangat membutuhkan suatu interaksi dengan sesamanya.
Kita berbicara mengenai hubungan antar manusia tersebut, di dalam hubungan itu terdapat suatu interaksi ,dimana antara individu satu dengan individu lainnya saling bertukar pikiran, saling berbagi cerita, saling support dan saling mengisi satu sama lain. Dari interaksi tersebut terbentuklah suatu integrasi sosial yang dapat menjadi salah satu factor terbentuknya pribadi seorang individu.
Sejak dini, kita sudah diajarkan oleh kedua orang tua kita bagaimana caranya berkomunikasi. Dari mulai diajarkan bagaimana menyebut nama ayah atau ibu , kemudian bagaimana cara melafalkan huruf abjad hingga bagaimana caranya kita berkomunikasi secara baik dan benar dengan sesama. Sudah bukan hal yang asing bagi kita untuk melakukan komunikasi, karena di dalam kehidupan ini kita selalu di hadapkan dengan hal itu. Karena tanpa adanya komunikasi yang baik antar sesama, maka tidak akan terjalin suatu kerukunan yang membuat bangsa ini menyatu.
Dalam kehidupan , kita juga dihadapkan dalam suatu kelompok besar yaitu kelompok masyarakat atau suatu organisasi. Dalam suatu organisasi dibutuhkan suatu ketelatenan dalam mengambil suatu keputusan. Dimana keputusan yang harus diambil itu merupakan kesepakatan bersama dari semua anggotanya. Disitulah komunikasi memegang peranan penting dalam suatu organisasi. Sebelum kita membahas lebih jauh mengenai peranan komunikasi dalam suatu organisasi, ada baiknya kalau kita memahami apa arti dari komunikasi dan apa arti dari organisasi tersebut berikut ini adalah penjelasannya :

Pengertian Komunikasi :
           Kata “komunikasi” berasal dari bahasa Latin, communis, yang berarti membuat kebersamaan atau membangun kebersamaan antara dua orang atau lebih.  (Vardiansyah, 2004 : 3). Ini dimaksudkan bahwa dengan adanya komunikasi, antar individu itu dapat saling bertukar pikiran , bertukar perasaan dan saling bertukar informasi sehingga terjalinlah suatu hubungan atau kebersamaan antar sesamanya.
           Komunikasi adalah proses individu mengirim stimulus yang biasanya dalam bentuk verbal untuk mengubah tingkah laku orang lain. Pada definisi ini mereka menganggap komunikasi sebagai suatu proses, bukan sebagai suatu hal”. (Muhammad, 2009 : 2). Jadi, komunikasi itu merupakan suatu proses dalam suatu kehidupan. Dengan saling bertukar pikiran , kita akan tahu apa yang sebelumnya belum kita ketahui. Dengan komunikasi , hidup kita akan terus mengikuti alur ke arah depan atau ke arah yang baru sehingga pribadi kita akan berkembang menyesuaikan dengan keadaan yang telah ada.
Pengertian Organisasi :
Organisasi adalah suatu sistem mengenai usaha usaha kerjasama yang dilakukan oleh dua orang atau lebih. (Menurut Chester I.Barnard mengemukakan dalam buku beliau yang berjudul The Function Of TheExecutive). Bisa kita katakan bahwa suatu organisasi itu merupakan suatu tempat yang menampung individu-individu yang mempunyai kepentingan dan tujuan yang sama , dimana dalam organisasi tersebut terdiri dari dua orang atau lebih yang saling bertukar pikiran dan mengambil keputusan bersama untuk suatu tujuan yang sukses.
Sudah sangat jelas adanya keterkaitan antara komunikasi dengan organisasi. Sudah pasti di dalam suatu organisasi itu terjalin suatu komunikasi. Komunikasi di dalam organisasi tersebut berbentuk kerja sama antar individu dalam merundingkan suatu kesepakatan bersama untuk tujuan yang sama.



Jenis dan Proses Komunikasi
Jenis Komunikasi
1.      Komunikasi Internal
Adalah komunikasi yang terjadi dalam organisasi itu sendiri. Misalnya, Pertukaran gagasan di antara para administrator dan karyawan dalam suatu perusahaan, dalam struktur lengkap yang khas disertai pertukaran gagasan secara horisontal dan vertikal di dalam perusahaan, sehingga pekerjaan berjalan [operasi dan manajemen].
Dua dimensi komunikasi internal :
a.       Komunikasi Vertikal : Komunikasi dari pimpinan ke staff, dan dari staf ke pimpinan dengan cara timbal balik [two way traffic communication].
” Downward Communication “ komunikasi atas ke bawah. Contoh pimpinan memberikan instruksi, petunjuk, informasi, penjelasan, perintah, pengumuman, rapat, majalah intern.
”Upward communication ”dari bawah ke atas. Contoh staf memberikan laporan, saran-saran, pengaduan, kritikan, kotak saran, dsb kepada pimpinan
b.      Komunikasi Horizontal : Komunikasi mendatar, antara anggota staf dengan anggota staf. Berlangsung tidak formal, lain dengan komunikasi vertikal yang formal. Komunikasi terjadi tidak dalam suasana kerja ! employee relation dan sering timbul rumours, grapevine, gossip.
2.      Komunikasi Eksternal
Komunikasi antara pimpinan organisasi [perusahaan] dengan khalayak audience di luar organisasi.



Komunikasi Efektif
Komunikasi dalam suatu organisasi sudah menjadi kebutuhan, karena komunikasi selalu memainkan peran yang paling penting dalam suatu pengambilan keputusan. Dengan komunikasi yang baik antar anggota organisasi tersebut dalam menciptakan suatu tujuan bersama maka akan menciptakan suatu kesepakatan bersama yang baik pula untuk kedepannya. Kurangnya komunikasi yang efektif membuat seringkali organisasi mengalami kegagalan dalam mencapai suatu tujuan.
Komunikasi merupakan suatu hal yang timbale balik, dimana tidak hanya berperan sebagai penyampai informasi saja , tetepai harus bisa membalas apa yang telah disampaikan kepada si penerima informasi . jika sudah adanya hubungan timbale balik yang baik, maka komnikasi pun menjadi efektif.
Hal yang paling utama dalam komunikasi yaitu rasa saling menghargai. Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa manusia itu selalu ingin di hargai , sejelek apapun hasil yang dia hasilkan, seburuk apapun pendapatnya atau semenjengkelkan apapun orang tersebut kita harus bisa menahan diri kita agar tidak langsung mengkritik. Karena mengkritik akan membuat dirinya merasa kehilangan kepercayaan dirinya. Hal yang paling tepat untuk dilakukan adalah menghargai. Hargailah apa yang telah orang lain kemukakan sekalipun pendapatnya tidak bisa kita terima dengan baik.

Implikasi Manajerial

Dalam system komunikasi organisasi, partisipatif telah menggunakan komunikasi dua arah, yaitu system atau pola komunikasi yang akan menghasilkan umpan balik secara langsung dari komunikan untuk dijadikan evaluasi. Pemimpin akan sering berkomunikasi dengan bawahan dalam merumuskan hal-hal yang dapat dirumuskan dengan bawahan. Hal ini menunjukkan bahwa komuniksai harus berfungsi juga sebagai persuatif dan regulative.
Kepemimpinan situasional memungkinkan seorang pemimpin melaksanakan kepemimpinannya sesuai dengan kondisi yang terjadi. Untuk komunikasi satu arah seperti Telling, mengharuskan pemimpin untuk lebih banyak mengarahkan, hal ini dilakukan agar tugas yang dilaksanakan sesuai dengan alur atau tujuan yang telah ditetapkan. Komunikasi satu arah akan mengalami kesulitan dalam menerima umpan balik sebagai evaluasi bagi organisasi. Terkadang dengan komunikasi satu arah, kondisi kerja akan terasa kaku karena bersifat formal.

Dalam kepemimpinan situsional yang dikembangkan menjadi empat bagian, membutuhkan komunikasi karena pada dasarnya kepemimpinan mempengaruhi orang. Dalam kepemimpinn ini, Delegating dengan tugas dan perilaku yang rendah menjdi aspek yang paling disukai apabila bawahan memiliki tingkat kesiapan yang tinggi, karena ada kebebasan dan kepercayaan dari pemimpin untuk berpartisipasi.







                    
Daftar pustaka :
Pengantar Ilmu Komunikasi (Vardiansyah, 2004 : 3),
Buku Komunikasi Organisasi  (Carl I. Hovland, Janis, an Kelley) (Muhammad, 2009 : 2)

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/18705/1/har-jan2008-2%20(6).pdf

Minggu, 26 Januari 2014

Kasus 1 : Hartoyo Sebagai Manajer

Kasus 1 : Hartoyo Sebagai Manajer
            Drs. Hartoyo telah menjadi manajer tingkat menengah dalam departemen produksi suatu perusahaan kurang lebih 6 bulan. Hartoyo bekerja pada perusahaan setelah dia pensiun dari tentara. Semangat kerja departemennya rendah sejak ia bergabung dalam perusahaan. Beberapa dari karyawan menunjukkan sikap tidak puas dan agresif.
            Pada jam istirahat makan siang, hartoyo bertanya pada drs. Abdul hakim, ak, manajer departemen keuangan, apakah dia mengetahui tentang semangat kerja yang rendah dalam departemen produksi. Abdul hakim menjawab bahwa dia telah mendengar secara informal melalui komunikasi “grapevine”, bahwa para karyawan hartoyo merasa tidak senang dengan pengambilan semua keputusan yang dibuat sendiri olehnya. Dia (hartoyo) menyatakan, “dalam tentara, saya membuat semua keputusan untuk bagian saya, dan semua bawahan mengharapkan saya untuk berbuat seperti itu.”

Pertanyaan kasus :
1.        Gaya kepemimpinan macam apa yang digunakan oleh hartoyo? Bagaimana keuntungan dan kelemahannya? Bandingkan motivasi bawahan hartoyo sekarang dan dulu sewaktu tentara.
Berdasarkan kasus di atas , saya berpendapat bahwa  Hartoyo masih terbawa kebiasaan sebelumnya yaitu iamasih terbiasa dengan rutinitasnya sebagai tentara sehingga gaya kepemimpinan yang dulu saat ia menjadi tentara terbawa hingga saat ini ia menjabat sebagai manajer. Gaya kepemimpinan seperti Hartoyo bisa kita katakan sebagai gaya kepemimpinan dengan Tipe Militerlistik. Tipe militerlistik itu merupakan tipe kepemimpinan yang tegas, dimana lebih diterapkannya disiplin yang tinggi namun terkadang tipe ini menjadikan segalanya kaku. Mengapa disebut kaku , karena terkadang tipe kepemimpinan ini dalam berkomunikasi nya juga masih menggunakan bahasa yang formal selain itu segala aktivitasnya juga masih bersifat formal dimana manajer disini menggunakan system komando atau perintah, sehingga terkesan kaku.
Di dalam membangun suatu perusahaan yang baik dan sejahtera, hal yang penting yang harus ada di dalam perusahaan tersebut adalah kerjasama yang kokoh antara manajer dengan karyawan , atau karyawan dengan karyawan. Dari sifat-sifat yang dimiliki oleh tipe kepemimpinan militerlistik, jelaslah bahwa tipe pemimpin seperti ini bukan merupakan pemimpin yang ideal. Karena lebih terkesan perusahaan itu yang mendominasi hanyalah sang manajer, dimana karyawan-karyawan hanyalah menjalankan sesuai yang diperintahkan oleh manajer.seharusnya kan karyawan juga berhak mengeluarkan pendapatnya atau ide ide yang brilian untuk perusahaan tersebut. Dan jika kita lihat dari kasus Hartoyo tersebut, perusahaan tersebut tidak akan maju karena sudah pasti salah satunya karena semangat kerja para karyawan menjadi rendah karena mereka tidak senang dengan pengambilan semua keputusan yang dibuat oleh hartoyo sendiri.
Tipe militer dalam kepemimpinan memang bagus untuk karyawan, karena karyawan tentunya menjadi sangat disiplin. Namun selain kelebihannya , ada juga kekurangan dari tipe kepemimpinan militer ini, yaitu Hartoyo tidak dapat menerima kritik atau saran dari karyawannya dikarenakan Hartoyo tidak dapat berkomunikasi dengan baik dengan karyawannya.

2.       Konsekuensinya apa, bila hartoyo tidak dapat merubah gaya kepemimpinannya? Apa saran saudara bagi perusahaan, untuk merubah keadaan?
Menurut pendapat saya, konsekuensi yang terjadi apabila hartoyo tidak dapat merubah gaya kepemimpinannya adalah bawahan hartoyo akan terus bersikap tidak puas dan agresif kepadanya. Jika terus menerus dibiarkan seperti itu, pekerjaan bawahan hartoyo pun tidak akan maksimal. Para karyawan akan bekerja setengah hati ,bahkan pekerjaan mereka bisa sangat buruk. Hal tersebut juga pasti akan berdampak besar pada perusahaan tersebut. Dimana sudah rendahnya motivasi karyawan untuk memajukan perusahaan tersebut.
Dan menurut pendapat saya, hartoyo itu harus merubah gaya kepemimpinannya. Sebab, orang-orang yang bekerja sebagai tentara mempunyai pemikiran yang berbeda dengan orang-orang yang bekerja di  perusahaan. Jangankan orang yang berbeda profesi, orang yang se-profesi saja kadangkala mempunyai buah pikir yang berbeda. Mungkin hartoyo dapat menggunakan gaya kepemimpinan tipe open leadership, yaitu hartoyo dapat mengambil keputusan yang dibuatnya tetapi ada pendekatan antara dia dan karyawan.


Kamis, 09 Januari 2014

Tegaskan , Bahwa Mencontek Bukan Budaya Kita !

Pernah kah kalian mencontek ?? apa sih sebenarnya tujuan kalian mencontek itu ?? dan apakah kalian puas dengan nilai yang kalian dapat dari hasil mencontek ?? tentu saja setiap orang memiliki jawaban yang berbeda-beda akan pertanyaan tersebut. Mencontek bukanlah kata yang asing di telinga kita. Entah budaya ini datangnya dari mana yang hingga sampai saat ini sudah menjadi kebiasaan bagi para pelajar. Bahkan kita pun terkadang tidak pernah sadar, bahwa mencontek itu sebenarnya sangat merugikan diri kita. Kita menganggap bahwa mencontek itu adalah hal yang sudah biasa dilakukan, dan kita pun akan berfikiran pendek sehingga memudahkan segala sesuatu tanpa adanya usaha keras dari kemampuan yang kita miliki.
Banyak orang yang tahu dampak negative dari mencontek itu, namun mereka seakan tak pernah peduli dan tidak malu lagi untuk melakukannya. Secara tidak langsung mencontek perlahan menghapus 2 hal terpenting yang ada dalam diri kita , yaitu : kejujuran dan rasa malu. Jika di dalam diri kita perlahan kejujurannya sudah mulai terkikis bagaimana kita akan bisa memajukan bangsa, ketidakjujuran yang tadinya hanya setitik jika kejujuran itu terkikis terus maka cepat atau lambat kejujuran itu akan mulai hilang dan akan digantikan dengan sebukit ketidakjujuran.
                Kebanyakan orang mencontek hanya karna untuk mendapatkan nilai yang bagus. Tapi nilai bagus itu percuma jika hasil dari mencontek. Nilai dari hasil mencontek dan nilai dari hasil kemampuan sendiri itu sangat llah beda rasanya. Jika kita mendapatkan nilai yang bagus karena hasil kemampuan diri sendiri maka kita pun akan bangga terhadap diri kita dan kita semakin percaya diri. Tapi jika kita mendapatkan nilai bagus dari hasil mencontek , secara langsung kita akan dibodohi oleh diri kita sendiri. Karena nyatanya pencontek itu hanya sering menggunakan kemampuan menirunya saja tanpa pernah menggunakan kemampuan otaknya.
.
Bisa dikatakan bahwa mencontek itu merupakan bibit dari korupsi. Prinsip mencontek mirip dengan prinsip korupsi. Mencontek itu mengambil jawaban teman untuk mendapatkan nilai bagus. Sedangkan korupsi mengambil uang rakyat untuk mendapatkan kekayaan dan niatan untuk menguasai. Semakin sering mencontek, semakin besar peluang untuk korupsi. Angka korupsi di Indonesiaini sudah sangat tinggi. Apa kita mau mempermalukan negara kita tercinta ini dengan memperbanyak jumlah koruptor?? Percuma sekolah tinggi-tinggi kalau ujung-ujungnya menjadi narapidana akibat korupsi.


Jadi, sebaiknya mulai sekarang kita menghilangkan budaya mencontek dengan carabelajar dengan sungguh-sungguh, mendekatkan diri kepada Alloh SWT, meningkatkan rasa percaya diri, melawan rasa malas, dan meningkatkan kedisiplinan. Semoga budaya mencontek berangsur-angsur hilang dari kehidupan pelajar, khususnya di Indonesia. Dan kita tegaskan pada diri kita MENCONTEK ITU BUKANLAH BUDAYA KITA !! J